Kriya Tradisional DIY Didorong Bangkit Hadapi Tantangan Zaman Modern

  • 14 Jul 2026 13:31 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Bantul — Pelestarian kriya berbasis tradisi terus menjadi perhatian berbagai pegiat budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Melalui kolaborasi lintas komunitas, upaya konservasi berbagai kerajinan tangan tradisional terus diperkuat agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman. Salah satu inisiatif tersebut dilakukan oleh Paraakar Indonesia bersama Kriya Dharma Selarong dan Taman Stasiun Nusantara yang berfokus pada pelestarian kriya tradisional sekaligus penguatan ekosistem ekonomi kreatif berbasis budaya.

Tangan renta Mbah Wongso (80, almarhum) pernah merajut anyaman, sekaligus merawat warisan budaya bangsa. Semangatnya menjadi pengingat bahwa kriya tradisional harus terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (Foto: Manajemen Kriya/Cornelius Doni Permana)

Manajer Kriya, Cornelius Doni Permana, menjelaskan bahwa istilah kriya merupakan kata baku dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang bermakna kerajinan tangan. Menurutnya, kriya Nusantara memiliki ragam yang sangat luas, mulai dari kriya kayu, anyaman, tekstil, bambu, hingga gerabah. Oleh karena itu, pengembangan kriya membutuhkan riset yang mendalam agar setiap jenis kerajinan memiliki dokumentasi dan basis data yang kuat sebagai landasan pelestarian.

"Kriya Nusantara membutuhkan banyak riset agar kita memiliki data dan dokumentasi yang kuat. Dari situlah kita bisa memahami asal-usul dan kekayaan setiap kriya yang ada di Indonesia," ujarnya.

Di usia 70 tahun, Mbah Ngadiyo, bersama Budhe Mukinem (62), tetap setia menganyam daun pandan laut. Di tangan mereka, tradisi tetap hidup dan menjadi warisan berharga yang patut dijaga untuk generasi mendatang. (Foto: Manajemen Kriya/Cornelius Doni Permana)

Doni mengatakan bahwa pihaknya bersama Paraakar Indonesia dan Kriya Dharma Selarong saat ini berupaya melakukan konservasi terhadap kriya berbasis tradisi yang dinilai mulai terancam punah. Fokus utama konservasi diarahkan pada kerajinan anyaman daun pandan laut yang berkembang di kawasan Soropadan, Kabupaten Bantul. Kerajinan tersebut dinilai memiliki nilai budaya tinggi, menggunakan bahan baku ramah lingkungan, dan dikerjakan melalui sistem padat karya.

Dari helai daun pandan lahir karya bernilai. Anyaman tradisional Bantul bukan sekadar produk kriya, tetapi warisan budaya yang patut dijaga, dicintai, dan dibanggakan. (Foto: Manajemen Kriya/Cornelius Doni Permana)

Menurutnya, sekitar dua dekade lalu, produk anyaman daun pandan laut dari Bantul pernah menembus pasar internasional dan dipasok ke berbagai perusahaan besar dunia. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, minat pasar terhadap produk tersebut mengalami penurunan sehingga banyak perajin mulai meninggalkan profesinya. Kondisi itu dikhawatirkan dapat mengancam keberlangsungan kriya tradisional apabila tidak segera mendapat perhatian.

Dari anyaman tradisional lahir karya yang elegan. Produk berbahan daun pandan laut ini membuktikan bahwa warisan budaya dapat bertransformasi menjadi karya modern yang bernilai tinggi dan ramah lingkungan. (Foto: Manajemen Kriya/Cornelius Doni Permana)

Sebagai bentuk nyata pelestarian, komunitas tersebut berupaya menjamin keberlangsungan produksi para perajin dengan membeli hasil anyaman yang mereka buat. Langkah itu dilakukan agar para perajin tetap memiliki kepastian pasar sehingga terdorong untuk terus mempertahankan keterampilan yang diwariskan secara turun-temurun.

"Kami berusaha menjamin pasar bagi para perajin. Yang kami perjuangkan bukan hanya produknya, melainkan juga keberlangsungan tradisi dan kesejahteraan para perajin," katanya.

Elegan dalam anyaman, kaya akan warisan. Produk kriya daun pandan laut dari Bantul membuktikan bahwa tradisi mampu tampil modern tanpa kehilangan nilai budaya. (Foto: Manajemen Kriya/Cornelius Doni Permana)

Selain memperkuat aspek ekonomi, berbagai program edukasi juga mulai disiapkan untuk menumbuhkan kembali kecintaan generasi muda terhadap kriya tradisional. Salah satunya melalui program Pandan Go to School yang akan mengunjungi sekolah-sekolah untuk memperkenalkan kembali seni anyaman kepada para pelajar. Program tersebut diharapkan mampu melahirkan regenerasi perajin sekaligus meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap karya berbasis tradisi.

Melangkah dengan karya, melestarikan budaya. Sandal anyaman daun pandan laut menghadirkan perpaduan antara kearifan lokal, kenyamanan, dan kepedulian terhad(Foto: Manajemen Kriya/Cornelius Doni Permana)

Doni menilai bahwa pengembangan kriya tidak semata-mata berbicara mengenai peningkatan penjualan, melainkan juga menyangkut keberlanjutan lingkungan dan nilai budaya. Ia menekankan bahwa konsep ekonomi hijau atau green economy perlu menjadi dasar dalam pengembangan kriya tradisional karena sebagian besar menggunakan bahan alami yang ramah lingkungan. Menurutnya, modernisasi seharusnya tidak menghilangkan tradisi, melainkan menjadi ruang kolaborasi yang saling menguatkan.

Ia berharap pemerintah daerah dapat menghadirkan kebijakan yang lebih berpihak kepada kriya tradisional, terutama yang berbasis lingkungan dan dikerjakan secara manual. Selain itu, Doni juga mengajak berbagai pihak, termasuk media massa, untuk bersama-sama mengangkat kembali nilai-nilai kriya sebagai bagian dari jati diri bangsa.

"Kami berharap RRI dapat bergabung bersama kami menjadi corong untuk mengajak masyarakat kembali mencintai kriya sebagai jati diri bangsa Indonesia," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....