G2R Tetrapreneur Yogyakarta Resmi Jadi Standar Nasional SNI 2026

  • 20 Jul 2026 07:45 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, YOGYAKARTA – Anggota unsur konsumen Komtek 03-13 SNI G2RT, Yazid, menyampaikan dalam program Santai Siang di Pro 2 RRI Yogyakarta pada Selasa, 7 Juli 2026, bahwa globalisasi merupakan proses mendunia yang terjadi di bidang sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Fenomena ini menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh seluruh bangsa di dunia.

Guna menjawab tantangan tersebut, muncul konsep Global Gotong Royong (G2R). Program visioner ini berawal dari kepeloporan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk menciptakan keunggulan atau ikon khusus bagi Jogja Istimewa melalui kebijakan pemerintah daerah.

Sebelumnya, pada 2015, Pemerintah DIY menjalin kerja sama dengan Pemerintah Korea Selatan melalui program Saemaul Undong. Program tersebut pada dasarnya mengusung semangat gotong royong yang diterapkan di bidang ekonomi. Hal ini membuktikan bahwa potensi gotong royong tidak hanya terbatas pada bidang sosial budaya, melainkan dapat diperluas ke sektor ekonomi secara global.

"Di antaranya program tersebut berada di Jogja, yaitu di Bantul, Sleman, Kulon Progo, Gunungkidul, dan wilayah perkotaan. Isinya adalah usaha ekonomi, sosial, pendidikan, dan lain sebagainya, yang ternyata menjadikan budaya gotong royong sebagai modelnya," ujanya.

Dalam program Santai Siang Pro 2 RRI Yogyakarta, Abu Yazid menjelaskan bahwa Global Gotong Royong (G2R) Tetrapreneur hadir sebagai model pemberdayaan masyarakat yang memadukan kearifan lokal dengan penguatan ekonomi berbasis kolaborasi. (Foto: Screenshoot Youtube RRI Jogja Official)

Menindaklanjuti kebaruan program visioner tersebut, Rika Fatimah P.L., S.T., M.Sc., Ph.D., pendiri sekaligus konseptor G2R Tetrapreneur yang juga dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM serta Wakil Ketua Komtek 03-13 SNI G2RT, merumuskan integrasi model kewirausahaan Tetrapreneur. Model ini sebelumnya telah menjadi proyek percontohan percepatan ekonomi di Malaysia sejak 2013. Integrasi dilanjutkan dengan membawa nilai gotong royong sebagai kearifan lokal Indonesia ke dalam model ekonomi global.

Langkah ini melahirkan inovasi baru dari UGM, yaitu kewirausahaan berbasis empat pilar Tetrapreneur yang dikenal sebagai Global Gotong Royong (G2R) Tetrapreneur. Pada 2026, konsep ini resmi menjadi standardisasi kewirausahaan gotong royong berlandaskan Ekonomi Pancasila pertama di Indonesia melalui SNI 9445:2026 tentang G2R Tetrapreneur sebagai pedoman mutu pembentukan ekosistem wirausaha gotong royong.

Kepeloporan program G2R Tetrapreneur diawali pada 2018 oleh Pemerintah DIY menggunakan Dana Keistimewaan melalui dinas terkait dan Biro Pemberdayaan Masyarakat DIY. Program bertahun jamak (multiyears) ini kemudian dijalankan secara lintas kedinasan, salah satunya oleh Dinas PMK dan Dinkop DIY.

Pada awal pelaksanaan tahun 2018, program ini hanya melibatkan dua desa, yaitu Desa Wukirsari dan Desa Girirejo di Imogiri. Pada tahun-tahun berikutnya, program diperluas hingga kini mencakup lebih dari 30 desa di seluruh DIY, bahkan menjangkau wilayah transmigrasi bersama Kementrans RI di Sulawesi dan daerah lainnya. Pencapaian ini menunjukkan kepeloporan Jogja Istimewa dalam inovasi kepemimpinan yang menggandeng pakar akademisi, birokrasi, industri, dan pemangku kepentingan untuk menginspirasi kebijakan nasional hingga tingkat global.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....