MAARIF Network Ingatkan Anak Muda Jangan Terjebak Doktrin Hitam Putih

  • 15 Jul 2026 13:33 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Koordinator MAARIF Network, Iqbal Suliansyah memberikan respons mendalam terkait ancaman radikalisme online dan fenomena kekerasan remaja yang kian mengkhawatirkan. Pernyataan ini disampaikan sebagai respons atas insiden ledakan bom rakitan oleh seorang siswa di MAN 3 Padang yang terjadi Selasa, 14 Juli 2026.

Iqbal Suliansyah menegaskan bahwa generasi muda saat ini harus semakin cerdas agar tidak mudah terjebak oleh doktrin ekstrem dan hitam-putih yang memicu aksi kekerasan

Menurut Iqbal, kasus di MAN 3 Padang di mana pelaku merakit bom secara otodidak dari internet setelah bergabung dengan grup Telegram/WhatsApp berkonten kekerasan (gore) dan terinspirasi kasus SMAN 72 Jakarta menjadi bukti nyata atas bahaya radikalisasi online.

"Fenomena radikalisasi online ini sangat berbahaya karena kerap kali menjadi pintu masuk bagi aksi lone wolf atau bergerak sendiri, ketika anak muda terpancing doktrin ekstrem, mereka sebenarnya sedang menggali kuburan bagi masa depannya sendiri " ujar Iqbal.

Mengutip pemberitaan berbagai media, pihak kepolisian mengungkapkan bahwa motif siswa MAN 3 Padang nekat meledakkan bom rakitan berdaya rendah tersebut dipicu oleh tekanan psikologis mendalam akibat sering menjadi korban perundungan.

Merespons hal tersebut, Iqbal mengingatkan bahwa celah sekecil apa pun di lingkungan terdekat harus. belajar dari sejarah kelam bom bunuh diri keluarga di Surabaya pada 2018, kontrol emosi dan lingkungan sosial anak muda memegang peran krusial .

Trauma psikologis akibat perundungan yang tidak ditangani dengan benar dapat membuat remaja mencari pelarian ke komunitas daring yang salah, termasuk grup-grup radikal maupun kelompok kekerasan.

" Pesan Buya Syafii Maarif adalah Anak muda sekarang ini harus semakin cerdas. Jangan terpancing doktrin hitam-putih yang diberikan oleh orang-orang yang membawa tema hijrah. Dunia itu tidak hitam-putih. Kalau anak muda terpancing dan terjebak, itu anak muda sedang menggali kuburan masa depannya" rincinya.

Guna membentengi generasi muda, MAARIF Institute secara konsisten mengampanyekan nilai-nilai anti-ekstremisme berbasis kekerasan melalui program Jambore Pelajar Teladan Bangsa (JPTB) sejak tahun 2012 hingga sekarang yang telah melahirkan ribuan alumni di seluruh Indonesia .

Selain itu, gerakan edukasi visual juga terus digalakkan, salah satunya lewat peluncuran film fiksi berjudul Mata Tertutup untuk membuka mata publik mengenai realitas jeratan ekstremisme.

"Mengatasi ekstremisme dan kekerasan remaja adalah tanggung jawab semua pihak . Kita harus meluruskan pemahaman bahwa tentunya tidak ada satu pun agama yang membenarkan ekstremisme maupun terorisme," tegas Iqbal.

Di akhir pernyataannya, Iqbal Suliansyah mengajak anak muda Indonesia untuk bergerak menciptakan hal-hal positif.Ia meminta agar setiap individu bijak menggunakan gawai dan tidak asal menyebarkan informasi atau konten kekerasan di media sosial.

Melalui jemari dan saring informasi yang ketat, generasi muda bertanggung jawab melahirkan pemikiran humanis demi menjaga keberagaman budaya Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....