Perlunya Pemahaman Orangtua agar Anak Balita Jauh dari Smartphone

  • 15 Jul 2026 12:45 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID, Jambi - Smartphone atau ponsel cerdas adalah telepon genggam yang berfungsi layaknya komputer mini. Perangkat ini menggunakan sistem operasi (seperti Android atau iOS) yang memungkinkan Anda tidak hanya untuk menelepon atau berkirim pesan, tetapi juga mengakses internet, navigasi GPS, dan mengunduh ribuan aplikasi untuk berbagai kebutuhan. (Wikipedia)

Anak di bawah lima tahun yang sudah diberikan HP (smartphone) berisiko mengalami berbagai dampak negatif pada perkembangan fisik, kognitif, emosional, dan sosialnya, terutama jika penggunaan tidak dibatasi dan tanpa pengawasan orang tua.

Berikut beberapa dampak yang diakibatkan anak bawah lima tahun (Balita) sudah diberikan smartphon (HP) yang berhasil dirangkum dari berbagai sumber:

1. Dampak pada perkembangan fisik

-> Gangguan mata: Sering melihat layar kecil dari jarak dekat dapat menyebabkan mata lelah, gangguan fokus, bahkan meningkatkan risiko miopi (mata rabun jauh) pada anak kecil.

-> Gangguan tidur: Paparan cahaya biru dari layar dan konten yang menghibur dapat membuat anak susah tidur, tidur lebih larut, dan kualitas tidur berkurang.

-> Risiko obesitas dan gizi kurang: Anak cenderung duduk lama, kurang bergerak, bahkan lupa makan saat asik bermain, sehingga meningkatkan risiko obesitas atau sebaliknya gizi kurang jika waktu makan terganggu.

2. Dampak pada perkembangan kognitif dan bahasa

-> Penurunan kemampuan kognitif: Gawai umumnya hanya memberi paparan visual–audio tanpa melatih motorik dan interaksi nyata, sehingga kemampuan mengolah kosa kata, informasi, dan mengelola stimulus bisa berkurang.

-> Speech delay (keterlambatan bicara): Paparan gawai berlebihan dapat mengurangi kesempatan anak berbicara, meniru, dan berinteraksi dengan orang, yang berpotensi menyebabkan keterlambatan bicara.

-> Susah konsentrasi: Terbiasa dengan konten cepat, berubah-ubah, dan instan membuat anak sulit fokus pada aktivitas yang lebih lama dan tenang, seperti belajar atau mendengarkan cerita.

3. Dampak pada perkembangan emosional dan sosial

-> Hilangnya hubungan emosional dengan orang lain: Jika anak dan orang tua juga sibuk dengan gawai, interaksi tatap muka berkurang, sehingga kehangatan dan ikatan emosional antara anak–orang tua menurun.

-> Kurang empati dan egosentris: Anak terbiasa “klik” untuk memuaskan keinginan sendiri, sehingga kurang merasakan kebutuhan dan perasaan orang lain, dan lebih mudah bersikap egois.

-> Perilaku agresif, pasif, malas bergaul: Dari sikap egosentris dan ketergantungan gawai, anak bisa menjadi lebih agresif, pasif, atau enggan bersosialisasi dengan teman dan lingkungan.

-> Gampang frustrasi, depresi, dan “kesepian dalam keramaian”: Karena terbiasa dengan hal instan, anak mudah frustrasi bila keinginan tidak langsung terpenuhi; frustrasi yang dibiarkan dapat berkembang menjadi depresi dan perilaku bermasalah.

-> Bullying dan perilaku antisosial: Sifat egosentris, mudah frustrasi, dan antisosial berpotensi menumbuhkan perilaku perundungan (bullying) dan keterlibatan dalam tawuran saat remaja.

4. Dampak jangka panjang

-> Motivasi belajar menurun: Anak yang terlalu asik dengan gawai bisa malas belajar, bahkan malas bersekolah.

-> Risiko masalah perilaku dan sosial saat dewasa: Pola pikir instan dan kurang empati dapat berisiko mengarah ke perilaku seperti korupsi, KDRT, atau masalah lain dalam hubungan sosial dan pekerjaan.

Berdasarkan rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), usia kurang 18 bulan tidak disarankan menggunakan gawai, kecuali untuk video call dengan orang tua/keluarga yang jauh. Usia 18 bulan sampai 5 tahun, tidak lebih dari 1 jam per hari, dan semakin sedikit semakin baik; harus bersama orang tua dan dengan konten yang dipilih orang tua.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....