Peter Pan Effect dan Alasan Gen Z Kembali ke Mainan

  • 13 Jul 2026 07:09 WIB
  •  Sintang

RRI.CO.ID, Sintang – Di balik tren koleksi plushie yang melanda kalangan Gen Z, terdapat dinamika psikologis dan sosial yang lebih dalam dari sekadar keinginan memiliki barang lucu. Para pakar menyebutnya sebagai respons terhadap tekanan dunia nyata yang semakin berat.

Mengutip dari CNBC, Melissa Symonds dari lembaga riset Circana menjelaskan bahwa fenomena ini berkaitan erat dengan apa yang disebut "joy economy", yaitu kecenderungan konsumen untuk mencari kenyamanan dan nostalgia melalui produk dan pengalaman, terutama ketika menghadapi tekanan ekonomi maupun geopolitik. Ia juga mengaitkan tren ini dengan "Peter Pan Effect", sebuah istilah psikologis yang menggambarkan kecenderungan orang dewasa untuk bertahan pada elemen-elemen kebahagiaan masa kecil. Bukan berarti mereka menghindari tanggung jawab, melainkan secara sadar memilih untuk mempertahankan rasa senang yang sederhana di tengah kehidupan yang semakin kompleks.

Gen Z sebagai generasi memang menghadapi tekanan yang tidak ringan. Inflasi yang terus naik membuat pencapaian-pencapaian yang dianggap penanda kedewasaan, seperti memiliki rumah atau membangun keluarga, terasa semakin jauh dari jangkauan. Sebagai generasi digital pertama, mereka pun terpapar ketidakstabilan global secara lebih intens dibandingkan dengan generasi sebelumnya, dari konflik bersenjata hingga krisis iklim, semuanya hadir langsung di layar mereka setiap hari.

Kondisi itu memunculkan fenomena lain yang disebut "doom spending", yaitu kebiasaan menghabiskan uang untuk kemewahan kecil seperti perjalanan, barang desainer, atau mainan mahal, karena pencapaian yang lebih besar terasa tidak realistis untuk dikejar. Menunda memiliki anak juga membuat sebagian Gen Z memiliki lebih banyak pendapatan yang bisa dialokasikan untuk kesenangan pribadi.

Di sisi lain, tren ini juga menjawab kebutuhan akan koneksi sosial. Sebanyak 85 persen Gen Z di Inggris mengaku pernah mengalami perasaan kesepian, menurut survei Hinge yang melibatkan 2.000 responden dewasa muda di sana. Mengoleksi plushie, terutama merek-merek populer seperti Jellycat dan Labubu, memberi akses ke komunitas online dan acara-acara tatap muka yang mempertemukan sesama penggemar. Joe Evans, pembeli mainan dari department store Selfridges, menyebut bahwa banyak konsumen muda datang bukan hanya untuk membeli produk, tetapi juga karena ingin merasa menjadi bagian dari sesuatu.

Tren ini menunjukkan bahwa di balik boneka berbulu dan wajah bulat yang menggemaskan, ada kebutuhan manusiawi yang lebih mendasar, yaitu kesenangan, rasa aman, dan rasa memiliki komunitas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....