PTAR Kembangkan Program Martabe Cocoa di Tapsel
- 13 Jul 2026 05:57 WIB
- Sibolga
RRI.CO.ID, Tapsel - PT Agincourt Resources (PTAR) membantu pengembangan komoditas kakao, di Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel).
Perusahaan pengelola Tambang Emas Martabe ini, memfokuskan pengembangan komoditas tersebut, di wilayah Kecamatan Batang Toru dan Kecamatan Muara Batang Toru.
Melalui program Martabe Cocoa, PTAR menargetkan penanaman kakao menyebar luas di dua kecamatan tersebut.
Untuk tujuan itu PTAR bahkan telah membangun area nursery atau tempat memproses benih menjadi bibit kakao, di Desa Napa, Batang Toru.
Supervisor Agriculture Development PTAR, Ilham Perwira, mengatakan ribuan bibit siap tanam akan dibagikan secara gratis kepada petani lokal.
"Dengan catatan, calon petaninya memiliki lahan dan bersedia didata agar bisa dikunjungi oleh tim Martabe Cocoa,, untuk memastikan lahannya cocok ditanami bibit kakao, atau mungkin butuh treatment," kata Ilham, di area nursery pada Sabtu, 11 Juli 2026.
Impian PTAR Jadikan Tapsel Penghasil Kakao Terbesar
Ilham mengungkapkan keinginan PTAR menjadikan wilayah Batang Toru dan Muara Batang Toru, Tapsel, sebagai sentra perkebunan kakao.
Dengan demikian perekonomian kedua kecamatan lingkar Tambang Emas Martabe itu akan meningkat dari sektor komoditas pertanian unggulan.
"Program (Martabe Cocoa) ini, sudah dimulai sejak tahun 2025. Tujuannya untuk membangkitkan kembali keseriusan petani lokal membudidaya kakao. Karena, dari tahun ke tahun area budidaya kakao, di Batang Toru dan Muara Batang Toru, turun drastis," ujarnya.
Berdasarkan data terkini, kata Ilham, Indonesia merupakan negara produsen biji kakao terbesar kelima di dunia.
Serta merupakan satu-satunya negara penghasil kakao, yang terletak di Benua Asia.
Dan untuk lingkup wilayah Sumatera Utara, Tapsel berada di peringkat kelima penghasil kakao.
*Namun, beberapa tahun belakangan ini, produksi kakao dari Tapsel, kian menurun. Mungjin dilatar belakangi harga kakao yang tidak stabil," katanya.
Pendampingan Petani Kakao
Ilham menjelaskan program Martabe Cocoa tidak hanya memberikan bibit kakao berkualitas secara gratis.
Namun juga memberikan penyuluhan kepada petani, serta pendampingan penanaman bibit kakao.
"Sehingga petani mengetahui cara menanam dan merawat tanaman kakao yang benar agar bisa tumbuh subur dan berbuah," terangnya.
Pemberdayaan Warga Lokal
Dalam implementasi program Martabe Cocoa, PTAR memberdayakan warga lokal sebagai pengelola nursery sekaligus menjadi relawan pendamping petani.
Ilham mengatakan pelibatan warga lokal untuk kepentingan keberlanjutan program tersebut pasca Tambang Emas Martabe tidak lagi beroperasi di Batang Toru.
"Kami (PTAR) memfasilitasi pembekalan pengetahuan tentang pembibitan hingga penanaman kakao. Kami berkerjasama dengan CV Scorpio, yang ada di Payakumbuh (Sumatera Barat), sebagai tutor bagi warga pengelola nursery Martabe Cocoa," ungkapnya.
Demikian halnya dengan pengelolaan industri kakao, yang menjadi bagian dari program Martabe Cocoa.
PTAR juga memberdayakan warga lokal untuk memproduksi coklat batangan dari biji kakao.
"Di area nursery ini, kami jug membangun tempat pengolahan coklat," kata Ilham.
Pengembangan Kakao Hulu-Hilir
Martabe Cocoa mengusung konsep hulu ke hilir untuk memaksimalkan manfaat dari program pertanian tersebut.
Di sektor hulu (Produksi Kakao): Mencakup penyediaan bibit unggul dan rehabilitasi kebun, penerapan Good Agricultural Practices, pelatihan budidaya, pemangkasan, pemupukan, dan pengendalian hama penyakit, serta pendampingan kelompok tani dan penguatan kelembagaan.
Di sektor tengah (Pascapanen dan Pengolahan): Berfokus pada peningkatan kualitas fermentasi dan pengeringan biji kakao, standarisasi mutu bahan baku, pengembangan fasilitas pengolahan kakao, serta pembelian hasil panen petani binaan dengan mekanisme yang adil dan berkelanjutan.
Di sektor hilir (Produk dan Pemasaran): Program menghasilkan berbagai varian produk Martabe Chocolate yang dikembangkan dari bahan baku kakao lokal.
Produk ini, dilengkapi strategi pengembangan merek, kemasan, dan pemasaran yang mencakup retail, event, oleh-oleh khas daerah, serta platform digital.
"Hasil panen petani akan kami beli dalam bentuk biji dari buah kakao untuk kemudian diolah menjadi coklat," jelasnya.
"Dan, produk coklat yang dihasilkan akan dijual melalui Bagas Silua (tempat pemasaran produk UMKM) milik PTAR, yang berlokasi di Desa Aek Pining, Batang Toru," katanya.
Namun untuk saat ini, bahan baku produk Martabe Cocoa diperoleh dari berbagai wilayah di Kabupaten Tapsel.
"Ke depan, kebutuhan bahan baku tersebut ditargetkan dapat dipenuhi dari hasil panen petani binaan di Kecamatan Batang Toru dan Kecamatan Muara Batang Toru," kata Ilham.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....