Kenapa Selingkuh Dikatakan Sebagai Penyakit Sosial?

  • 01 Jul 2026 14:45 WIB
  •  Wamena

RRI.CO.ID, Wamena - Selingkuh atau perselingkuhan dalam hubungan sering kali dikategorikan sebagai penyakit sosial. Istilah "penyakit sosial" sendiri digunakan untuk menggambarkan perilaku individu atau kelompok yang melanggar norma-norma masyarakat, merusak tatanan sosial, dan membawa dampak negatif yang luas bagi komunitas, bukan hanya bagi pelaku itu sendiri.

Keluarga adalah unit terkecil dan fondasi utama dari sebuah masyarakat. Perselingkuhan merusak komitmen, kepercayaan, dan ikatan di dalam keluarga. Ketika sebuah keluarga hancur karena perselingkuhan, tatanan sosial di tingkat paling dasar pun ikut retak. Jika tingkat kehancuran keluarga dalam suatu masyarakat tinggi, stabilitas sosial masyarakat tersebut juga akan melemah.

Setiap masyarakat memiliki norma, nilai moral, dan aturan agama yang menjunjung tinggi kesetiaan dan kejujuran dalam hubungan. Perselingkuhan adalah bentuk pelanggaran terang-terangan terhadap kesepakatan sosial dan sakral tersebut. Perilaku ini dianggap sebagai penyimpangan yang menodai nilai-nilai luhur yang disepakati bersama oleh komunitas.

Dampak perselingkuhan tidak berhenti pada pasangan yang dikhianati. Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang retak akibat perselingkuhan sering kali mengalami trauma psikologis, kehilangan figur teladan, hingga mengalami krisis kepercayaan (trust issues) di masa depan. Secara sosial, ini berpotensi menciptakan generasi baru yang memiliki hambatan emosional dalam membangun hubungan yang sehat.

Konflik domestik akibat perselingkuhan sering kali berujung pada penurunan produktivitas kerja, stres berat, depresi, bahkan tindakan kriminal (seperti KDRT atau kekerasan fisik). Ketika banyak individu dalam suatu masyarakat mengalami penurunan kesejahteraan mental dan produktivitas, beban sosial dan ekonomi negara atau komunitas tersebut akan meningkat.

Perselingkuhan jarang sekali tetap menjadi rahasia privat. Ketika terungkap, hal ini sering kali melibatkan pihak ketiga, keluarga besar, hingga tetangga atau rekan kerja. Hal ini memicu gosip, pengucilan sosial (stigma), dan konflik antar-keluarga yang dapat merusak keharmonisan hubungan bertetangga atau bermasyarakat.

Perselingkuhan disebut penyakit sosial karena sifatnya yang menular dalam hal dampak. Ia tidak hanya menyakiti satu hati, melainkan merusak mental anak-anak, meruntuhkan institusi keluarga, melanggar nilai-nilai moral bersama, dan pada akhirnya mengikis rasa saling percaya yang menjadi perekat kehidupan bermasyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....