AI Ubah Dunia Kerja, 170 Juta Lapangan Kerja Baru Diproyeksikan Muncul hingga 2030
- 30 Jun 2026 21:47 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) diperkirakan akan mengubah struktur pasar tenaga kerja global dalam lima tahun ke depan. Meski sejumlah pekerjaan berpotensi tergantikan oleh otomatisasi, hasil penelitian terbaru menunjukkan AI juga akan menciptakan lebih banyak peluang kerja baru dibandingkan pekerjaan yang hilang.
Berdasarkan laporan Future of Jobs Report 2025 yang diterbitkan oleh World Economic Forum, sebanyak 170 juta lapangan kerja baru diproyeksikan tercipta secara global hingga 2030. Di sisi lain, sekitar 92 juta pekerjaan diperkirakan akan tergantikan akibat perkembangan teknologi, otomatisasi, dan perubahan ekonomi, sehingga menghasilkan penambahan bersih sekitar 78 juta pekerjaan. Penelitian tersebut melibatkan lebih dari 1.000 perusahaan dari 55 negara yang merepresentasikan lebih dari 14 juta pekerja di berbagai sektor industri.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa transformasi digital, perkembangan AI, transisi menuju ekonomi hijau, perubahan demografi, serta ketidakpastian ekonomi menjadi faktor utama yang mendorong perubahan kebutuhan tenaga kerja dunia. Sekitar 22 persen dari total pekerjaan saat ini diperkirakan akan mengalami perubahan hingga 2030 akibat berbagai faktor tersebut.
Penelitian itu juga menemukan bahwa sekitar 39 persen keterampilan yang saat ini dimiliki pekerja diperkirakan akan berubah atau menjadi usang dalam lima tahun mendatang. Keterampilan di bidang AI, big data, keamanan siber, dan literasi teknologi diprediksi menjadi kompetensi dengan pertumbuhan permintaan paling tinggi. Namun demikian, kemampuan berpikir analitis, kreativitas, kepemimpinan, kolaborasi, serta kemampuan beradaptasi tetap menjadi kompetensi yang paling dibutuhkan perusahaan.
Sebaliknya, sejumlah pekerjaan yang bersifat administratif dan rutin diproyeksikan mengalami penurunan permintaan seiring meningkatnya penggunaan teknologi AI generatif dan otomatisasi. Di saat yang sama, profesi seperti spesialis AI dan machine learning, analis data, ahli keamanan siber, pengembang perangkat lunak, hingga tenaga pendidik dan tenaga kesehatan diperkirakan akan mengalami peningkatan kebutuhan dalam beberapa tahun mendatang.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa tantangan utama dunia kerja bukan semata-mata tergantinya tenaga manusia oleh AI, melainkan kemampuan individu untuk meningkatkan keterampilan (upskilling) dan mempelajari kompetensi baru (reskilling) agar tetap relevan dengan kebutuhan industri. Laporan itu juga mencatat sebanyak 77 persen perusahaan berencana meningkatkan keterampilan karyawannya sebagai respons terhadap perkembangan AI, sementara 41 persen perusahaan memperkirakan akan mengurangi jumlah tenaga kerja pada pekerjaan yang dapat diotomatisasi.
Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa AI tidak hanya menghadirkan tantangan, tetapi juga membuka peluang baru bagi tenaga kerja yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan industri global.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....