Mukena, Warisan Islam Nusantara

  • 22 Jun 2026 15:10 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Hampir setiap kali azan berkumandang, jutaan perempuan Indonesia mengambil satu benda yang begitu akrab dalam keseharian mereka yaitu mukena. Bagi banyak orang, mukena terasa begitu lekat dengan Islam sehingga kerap dianggap sebagai tradisi yang berasal langsung dari tanah Arab. Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu.

Jika berkesempatan mengunjungi masjid-masjid di Arab Saudi, Mesir, Yordania, atau Maroko, kita akan menemukan pemandangan yang berbeda. Perempuan Muslim di sana umumnya melaksanakan shalat dengan pakaian yang mereka kenakan sehari-hari, selama memenuhi syarat menutup aurat. Tidak ada busana khusus bernama mukena seperti yang lazim digunakan di Indonesia.

Lalu, dari mana sebenarnya mukena berasal?

Sejumlah kajian tentang budaya Islam Nusantara menyebut bahwa mukena merupakan hasil perjumpaan antara ajaran Islam dan tradisi lokal masyarakat Melayu. Ketika Islam mulai berkembang di kepulauan Nusantara berabad-abad silam, perempuan setempat umumnya mengenakan kebaya, kain panjang, atau busana adat yang beragam. Untuk memudahkan pelaksanaan ibadah, muncullah kain penutup tambahan yang dapat dikenakan saat salat.

Dalam perkembangannya, kain penutup itu berevolusi menjadi busana khusus yang menutupi tubuh dari kepala hingga kaki. Masyarakat kemudian mengenalnya dengan sebutan mukena.

Menariknya, kata "mukena" sendiri diduga berasal dari bahasa Arab miqna'ah, yang berarti penutup kepala atau kerudung. Istilah tersebut masuk ke wilayah Melayu dan lambat laun mengalami penyesuaian bunyi hingga menjadi kata yang kita kenal sekarang.

Meski berakar dari kosakata Arab, bentuk mukena yang digunakan saat ini merupakan ciri khas masyarakat Muslim di Indonesia, Malaysia, Brunei, dan beberapa wilayah Melayu lainnya. Karena itulah banyak peneliti menyebut mukena sebagai salah satu produk budaya Islam Nusantara yang paling berhasil bertahan hingga sekarang.

Barangkali keistimewaan mukena justru terletak pada kesederhanaannya. Ia bukan sekadar selembar kain untuk beribadah, melainkan penanda perjalanan panjang bagaimana Islam diterima, dipahami, dan menyatu dengan kehidupan masyarakat lokal.

Di tengah arus globalisasi yang membuat banyak tradisi perlahan memudar, mukena tetap hadir di rumah-rumah, surau, dan masjid-masjid di seluruh Indonesia. Ia diwariskan dari ibu kepada anak, dari generasi ke generasi, tanpa banyak orang menyadari bahwa benda yang tampak sederhana itu sesungguhnya menyimpan kisah panjang tentang identitas, budaya, dan sejarah bangsa.

Mungkin itulah sebabnya mukena terasa begitu dekat dengan masyarakat Indonesia. Bukan hanya karena dipakai saat beribadah, tetapi karena di dalam setiap lipatan kainnya tersimpan jejak perjalanan Islam yang tumbuh dan berakar di Nusantara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....