Tausiyah Sore : Kepada Siapakah Kita Harus Mengadu Tentang Kehidupan

  • 14 Jun 2026 10:42 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Radio Republik Indonesia (RRI) Pro 1 Lhokseumawe kembali menyiarkan program rutin Tausiyah Sore yang dipancarkan langsung dari studio di Jalan Peutua Ibrahim, Tumpok Teungoh. Pada edisi kali ini, siaran keagamaan tersebut mengangkat sebuah tema mendalam mengenai arah aduan manusia di tengah beratnya ujian hidup. Hadir sebagai penceramah utama adalah Ustadz Syaiful Azhar, Lc., M.Sh., MH.

Dalam tausiyahnya, Ustadz Syaiful Azhar mengupas realitas kehidupan manusia yang tidak pernah luput dari cobaan, kesedihan, dan problematika sosial. Beliau menyoroti fenomena masyarakat modern yang sering kali salah memilih tempat untuk mencurahkan keluh kesah mereka. Di era digital saat ini, banyak individu yang justru meluapkan masalah pribadi atau keluarga ke media sosial, yang pada akhirnya bukan menyelesaikan masalah melainkan berpotensi membuka aib sendiri.

Lebih lanjut, Ustadz Syaiful menegaskan bahwa satu-satunya tempat terbaik dan paling utama bagi seorang Muslim untuk mengadu adalah kepada Allah SWT. Mengadu kepada Sang Pencipta melalui doa, salat tahajud, dan iktikaf tidak akan pernah mendatangkan kekecewaan. Berbeda dengan manusia yang memiliki keterbatasan dan sifat bosan, Allah SWT justru menyukai hamba-Nya yang bersujud dan berserah diri secara total memohon pertolongan-Nya.

Sebagai bentuk solusi dan tuntunan bimbingan, masyarakat diajak untuk memperkuat benteng keimanan dengan cara memperbanyak istigfar dan membaca Al-Qur'an kala hati merasa sesak. Ustadz Syaiful mengingatkan bahwa setiap ujian yang diberikan Allah memiliki hikmah tersendiri untuk menaikkan derajat keimanan seseorang. Oleh karena itu, kesabaran dan keteguhan hati dalam menghadapi roda kehidupan harus selalu diiringi dengan husnudzon atau berprasangka baik kepada ketetapan-Nya.

Pada akhir siaran Tausiyah Sore ini, penceramah mengajak seluruh pendengar untuk merefleksikan kembali arah hidup mereka. Kehidupan yang tenang tidak diukur dari hilangnya ujian, melainkan dari seberapa dekat hubungan seorang hamba dengan Tuhannya saat badai ujian itu datang. Dengan selalu bersandar kepada Allah, setiap beban hidup yang dipikul niscaya akan terasa lebih ringan dan mendatangkan ketenteraman jiwa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....