Kendalikan Nafsu dan Kekayaan Demi Menjaga Moral

  • 13 Jun 2026 18:40 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe – Radio Republik Indonesia (RRI) Lhokseumawe kembali menyelenggarakan program rutin Tausiyah Sore menjelang waktu magrib. Pada kesempatan kali ini, siaran keagamaan tersebut mengangkat tema penting mengenai hubungan antara nafsu, perburuan kekayaan, dan dampaknya terhadap kehancuran moral manusia. Hadir sebagai pemateri utama di studio adalah Ustaz Saifuddin, yang mengupas tuntas fenomena sosial ini berdasarkan perspektif Al-Qur'an dan hadis.Sabtu 13 Juni 2026.

Dalam pemaparannya, Ustaz Saifuddin menyoroti fenomena maraknya kasus penyalahgunaan kekuasaan dan kekayaan yang kerap berujung pada runtuhnya batasan moral. Ia mengingatkan umat Muslim tentang sifat dasar manusia yang cenderung tidak pernah merasa puas. Merujuk pada sabda Rasulullah SAW, manusia digambarkan tidak akan pernah cukup meski telah diberikan satu lembah emas, dan keserakahan tersebut baru akan berhenti saat mereka telah kembali ke tanah atau wafat.

Lebih lanjut, Ustaz Saifuddin menjelaskan bahwa kerusakan moral sering kali dipicu oleh cara-cara yang salah dalam memperoleh harta dan jabatan. Sumber yang haram seperti judi, narkoba, prostitusi, hingga praktik riba, serta metode yang tidak halal seperti suap-menyuap, menjadi penyebab hilangnya keberkahan hidup. Ketidakjujuran ini dinilai terjadi karena manusia lebih takut tertinggal dari arus duniawi ketimbang tunduk dan percaya pada jaminan rezeki dari Allah SWT.

Sebagai solusi atas persoalan tersebut, masyarakat diajak untuk membentengi diri dengan rutin memakmurkan masjid dan menghadiri majelis taklim agar hati tidak mengeras dan menghitam. Bagi mereka yang sudah terlanjur terjerumus, pintu tobat selalu terbuka melalui istigfar dan perbaikan amal saleh. Di samping itu, ditekankan pula pentingnya menjaga hubungan baik antar sesama manusia dengan cara menghindari perilaku menggunjing, menyebarkan aib, ataupun bergosip.

Pada akhir tausiyah, Ustaz Saifuddin mengingatkan bahwa kekayaan materi ataupun tingginya jabatan sama sekali tidak menjamin ketenteraman jiwa. Kedamaian hati yang sejati hanya bisa diperoleh dengan selalu mengingat Allah SWT dan memiliki sifat qanaah atau merasa cukup. Orang tua juga diimbau untuk tidak abai dalam mengawasi ibadah keluarga, terutama dalam mendidik anak-anak agar taat mendirikan salat sejak dini demi keselamatan di akhirat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....