BPS Antisipasi Tantangan Sensus Ekonomi 2026 di Malinau
- 08 Jun 2026 15:51 WIB
- Malinau
Poin Utama
- BPS Malinau mengantisipasi sejumlah tantangan dalam pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026, mulai dari kondisi geografis wilayah yang luas, mobilitas warga yang banyak beraktivitas di ladang, hingga kejujuran responden.
- Sebanyak 91 petugas lapangan disiapkan untuk mendata di 15 kecamatan di Malinau, yakni aktifitas usaha, pemutakhiran DTSEN, serta data pertanian.
RRI.CO.ID, Malinau - Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Malinau mengantisipasi sejumlah tantangan dalam pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 yang akan berlangsung pada 15 Juni hingga 31 Agustus 2026. Kondisi geografis wilayah, karakteristik responden, hingga efisiensi anggaran menjadi perhatian dalam pelaksanaan pendataan.
Kepala BPS Kabupaten Malinau, Yanuar Dwi Christyawan, mengatakan sebanyak 91 petugas lapangan telah disiapkan untuk melakukan pendataan secara door to door di 15 kecamatan di Kabupaten Malinau.
Menurutnya, tantangan terbesar berasal dari kondisi geografis daerah yang luas dan beragam. Sebagai wilayah dengan banyak kawasan pedalaman, seluruh daerah tetap harus dijangkau oleh petugas sensus.
“Karena sampai Bahau Hulu, Sungai Boh, Pujungan, semuanya harus didata. Namanya sensus, semua harus didata,” katanya pada RRI, Senin (8/6/2026).
Untuk mengatasi kendala tersebut, BPS berupaya merekrut petugas yang berasal dari wilayah setempat, dengan ekspektasi bisa lebih memahami kondisi medan dan karakteristik masyarakat di wilayah kerjanya.
“Tapi kita juga menyaratkan standar yang tinggi juga dalam rekrutmen, supaya jangan sampai orangnya tidak bisa bekerja,” imbuh Yanuar.
Karakteristik responden juga menjadi tantangan tersendiri. Banyak warga yang beraktivitas di ladang pada siang hari sehingga petugas harus menyesuaikan waktu kunjungan.
“Takutnya responden pada waktu itu banyak ke ladang, jadi cuma bisa ditemui malam. Mau tidak mau petugas harus jalan malam setelah magrib untuk menemui mereka,” ujarnya.
Yanuar menjelaskan, kondisi tersebut kerap ditemui pada kegiatan pendataan sebelumnya. Petugas harus bekerja lebih fleksibel untuk memastikan seluruh sasaran sensus dapat terdata dengan baik.
Selain itu, kejujuran responden juga menjadi tantangan yang dihadapi petugas selama proses pendataan. Menurut Yanuar, sejumlah pertanyaan dalam Sensus Ekonomi menyangkut informasi usaha yang cukup sensitif, seperti omzet, modal, keuntungan, hingga biaya operasional.
“Bagaimana mendekati responden supaya menjawab jujur itu yang paling sulit. Selama saya bekerja, dalam sensus ekonomi itu yang paling sulit ketika melakukan pendataan,” katanya.
Ia menjelaskan petugas hanya mencatat informasi yang disampaikan responden. Karena itu, kualitas data sangat bergantung pada keterbukaan masyarakat dalam memberikan jawaban sesuai kondisi sebenarnya.
Ia menambahkan, pelaksanaan sensus tahun ini juga dilakukan di tengah upaya efisiensi anggaran. Meski demikian, BPS berkomitmen menjaga kualitas data yang dihasilkan melalui perencanaan dan pengelolaan sumber daya yang optimal.
“Kita masih mencoba melakukan efisiensi semaksimal mungkin, tapi juga berupaya agar datanya tetap bagus,” ucapnya.
Sensus Ekonomi 2026 akan mendata aktivitas usaha masyarakat sekaligus pemutakhiran Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) serta pengumpulan data sektor pertanian yang menjadi bagian penting dalam penyusunan kebijakan pembangunan.
Karena itu, BPS berharap masyarakat dapat mendukung pelaksanaan sensus agar pendataan di seluruh wilayah Kabupaten Malinau berjalan lancar dan menghasilkan data yang akurat. (Ading)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....