Meugang Bukan Sekadar Tradisi, tapi Simbol Solidaritas Sosial

  • 25 Mei 2026 16:43 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Menjelang Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, masyarakat Aceh kembali menyambut tradisi meugang yang telah diwariskan secara turun-temurun sejak masa Kesultanan Aceh.

Tradisi yang identik dengan membeli, memasak, dan menikmati daging bersama keluarga tersebut bukan hanya menjadi bagian dari budaya masyarakat Aceh, tetapi juga memiliki makna religius, sosial, dan kebersamaan yang kuat.

Di berbagai daerah di Aceh, suasana meugang selalu menghadirkan semarak tersendiri. Pasar-pasar dipadati warga, aroma masakan khas mulai tercium dari rumah-rumah masyarakat, sementara kebersamaan antar keluarga dan tetangga terasa semakin erat.

Bagi masyarakat Aceh, meugang bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan momentum berbagi kebahagiaan dan memperkuat solidaritas sosial.

Tradisi meugang di Aceh dinilai bukan hanya sekadar budaya turun-temurun menjelang Ramadan maupun hari besar Islam, tetapi juga memiliki makna sosial dan nilai kepedulian yang kuat di tengah masyarakat. Hal tersebut disampaikan Tgk. Adnan Yahya, M.Pd., Ketua Bidang Adat Istiadat Majelis Adat Aceh (MAA) Kota Lhokseumawe.

Menurut Tgk. Adnan, meugang telah berkembang sejak masa Sultan Iskandar Muda dan menjadi simbol solidaritas antara pemerintah dan rakyat maupun sesama masyarakat. Tradisi tersebut juga menjadi momentum mempererat silaturahmi antar keluarga, tetangga, serta lingkungan sosial.

“Meugang bukan sekadar simbol kemapanan ekonomi, tetapi juga simbol kepedulian, kepekaan, dan solidaritas antar sesama,” ujarnya.

Ia menambahkan, di tengah kondisi masyarakat Aceh yang sebagian masih terdampak musibah banjir dan tinggal di hunian sementara, tradisi meugang seharusnya menjadi kesempatan untuk berbagi kepada mereka yang membutuhkan.

Dalam pandangan agama, kata Tgk. Adnan, semangat saling membantu juga sejalan dengan firman Allah SWT:

“Wa ta’āwanū ‘alal birri wat taqwā wa lā ta’āwanū ‘alal itsmi wal ‘udwān,” yang berarti saling tolong-menolonglah dalam kebaikan dan takwa, serta jangan saling membantu dalam keburukan.

Karena itu, ia berharap pelestarian meugang tidak hanya menjaga tradisinya semata, tetapi juga mempertahankan nilai-nilai sosial dan pelajaran kehidupan yang terkandung di dalamnya.

Tgk. Adnan juga mengutip Hadih Maja Aceh:

Lam hudép ta meusaré. Lam meu glé ta meubila. Lam meu blang ta meutulong. Lam gampông ta meusyèdara.

Menurutnya, ungkapan tersebut menggambarkan pentingnya semangat saling membantu, saling menjaga, dan memperkuat persaudaraan dalam kehidupan masyarakat Aceh.

“Tradisi meugang harus melahirkan aksi-aksi filantropi dan kepedulian sosial di tengah masyarakat,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....