Pembatasan Akses Digital Dorong Kreativitas Interaksi Nyata Anak
- 16 Apr 2026 17:27 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun — Penerapan kebijakan pembatasan usia penggunaan media sosial melalui PP Tunas dinilai tidak hanya berfungsi sebagai perlindungan anak dari dampak negatif dunia digital, tetapi juga membuka peluang besar bagi pengembangan kreativitas serta penguatan interaksi sosial di kehidupan nyata.
Psikolog Aulia Andaryati menyebutkan bahwa pembatasan akses digital yang diterapkan secara bertahap justru dapat membantu anak dan remaja tumbuh lebih seimbang, baik dari sisi kreativitas maupun hubungan sosial. Menurutnya, selama ini anak-anak cenderung terlalu terpapar dunia digital tanpa filter yang sesuai usia. Padahal, fase di bawah 16 tahun merupakan masa krusial dalam pembentukan identitas diri.
“Pembatasan ini bukan melarang total, tapi memastikan anak menerima konten sesuai usianya sehingga mereka lebih siap secara psikologis,” jelas Aulia.
Lebih jauh, ia menilai bahwa berkurangnya paparan digital secara berlebihan justru memberi ruang bagi anak untuk mengembangkan potensi di dunia nyata. Salah satunya melalui aktivitas kreatif yang tidak selalu bergantung pada media sosial.
“Penugasan seperti membuat konten sebenarnya bisa memacu kreativitas anak. Tapi di sini peran orang tua penting, bukan hanya mengawasi, melainkan menjadi pendamping aktif,” ujarnya.
Ia menambahkan, anak tetap bisa berkreasi dengan memanfaatkan teknologi secara sehat, misalnya melalui akun orang tua atau dengan bimbingan langsung. Aulia menegaskan, pendekatan ini membantu anak tidak hanya menjadi kreatif, tetapi juga memahami batasan dan risiko penggunaan teknologi.
“Anak jadi kreatif, melek digital, tahu batas, tahu risiko, dan bisa menggunakan teknologi secara sehat,” katanya.
Selain mendorong kreativitas, PP Tunas juga dinilai mampu memperkuat interaksi sosial di dunia nyata. Dengan berkurangnya intensitas penggunaan media sosial, anak memiliki lebih banyak kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan teman sebaya di lingkungan sekitar. Ia menekankan bahwa hubungan sosial yang sehat tidak ditentukan oleh jumlah “like” atau pengikut di media sosial, melainkan kualitas interaksi itu sendiri.
“Yang penting bukan selalu online, tapi tetap merasa terhubung. Ketika paparan digital berkurang, justru bisa memperkuat koneksi di dunia nyata. Anak jadi lebih banyak berinteraksi secara langsung dengan teman sekolah atau lingkungan rumah,” jelasnya.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa pembatasan harus diimbangi dengan edukasi dan komunikasi yang baik antara orang tua dan anak. Tanpa itu, pembatasan justru bisa menimbulkan rasa tertinggal atau penasaran berlebihan. Dengan pendekatan tepat, PP Tunas menjadi momentum membentuk generasi kreatif, sehat mental, dan kuat secara sosial di dunia nyata.
“Bukan hanya membatasi, tapi juga membekali. Anak perlu dijelaskan alasan di balik aturan, supaya mereka memahami dan tidak merasa dikekang,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....