Refleksi Minggu Terakhir Syawal
- 10 Apr 2026 20:51 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Tanpa kita sadari, pada akhirnya kita telah memasuki minggu terakhir bulan Syawal. Banyak umat Muslim mulai merasakan perubahan suasana dibandingkan dengan masa Ramadhan yang penuh kekhusyukan. Rasa rindu terhadap ibadah yang lebih intens, seperti tarawih dan tadarus Al-Qur’an, kerap muncul. Di sisi lain, sebagian orang juga mulai merasakan penurunan semangat ibadah karena kembali disibukkan dengan aktivitas sehari-hari.
Apakah hal tersebut wajar ? Tentu saja perasaan tersebut menjadi hal yang wajar, namun penting untuk dijadikan bahan refleksi diri. Minggu terakhir Syawal seharusnya menjadi momentum untuk menilai sejauh mana nilai-nilai Ramadhan masih tertanam dalam kehidupan. Apakah kebiasaan baik seperti menjaga shalat tepat waktu, memperbanyak sedekah, serta menjaga lisan masih terus dilakukan, atau justru mulai ditinggalkan. Yang pasti setiap moment tahunan antara Ramadhan dan Syawal selalu meninggalkan kerinduan pada moment-moment di dalamnya.
Para ulama menyarankan agar umat Muslim tetap menjaga amalan sunnah di bulan Syawal, seperti puasa enam hari yang memiliki keutamaan besar. Selain itu, memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, serta menjaga silaturahmi juga menjadi amalan yang dianjurkan untuk mempertahankan keberkahan setelah Ramadhan. Konsistensi dalam amal, meskipun sedikit, dinilai lebih baik daripada amalan besar namun tidak berkelanjutan.
Menjadi pengingat kita bersama, bahwa Minggu terakhir Syawal juga menjadi waktu yang tepat untuk memperkuat tekad dalam memperbaiki diri. Dengan menjadikan Ramadhan sebagai titik awal perubahan, diharapkan setiap individu mampu menjaga kualitas iman sepanjang tahun. Semangat ibadah yang masih tersisa hendaknya terus dipupuk agar tidak padam, sehingga kehidupan setelah Ramadhan tetap dipenuhi dengan nilai-nilai kebaikan dan ketakwaan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....