Makna Idulfitri Sebagai Momentum Penting Kembali ke Fitrah
- 05 Apr 2026 19:04 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Dalam pembahasan Ustadz Saifuddin, Lc., MH, saat siaran tausiyah sore di Pro 1 RRI Lhokseumawe pada Minggu, 5 April 2026 yang bertepatan dengan 17 Syawal 1447 H. Beliau menekankan bahwa Idulfitri harus dimaknai sebagai momentum "kepulangan" manusia kepada kesucian aslinya setelah satu bulan penuh ditempa di madrasah Ramadan. Tema Idul Fitri dan Kembali ke Fitrah ini menjadi pengingat bahwa esensi kemenangan bukan terletak pada kemeriahan fisik, melainkan pada kembalinya hati yang bersih dan jiwa yang tenang kepada bimbingan nilai-nilai ketuhanan.
Dalam ulasannya, Ustadz Saifuddin, Lc., MH menjelaskan bahwa fitrah adalah kondisi di mana manusia cenderung pada kebenaran dan ketaatan kepada Allah SWT. Melalui ibadah puasa, segala noda dosa yang mengotori hati dibersihkan, sehingga pada hari raya, setiap Muslim diharapkan mampu berinteraksi dengan sesama tanpa ada sekat kebencian atau penyakit hati. Beliau menegaskan bahwa momentum kembali ke fitrah ini harus diwujudkan dalam aksi nyata berupa permohonan maaf yang tulus dan tekad untuk tidak lagi mengulangi kesalahan-kesalahan di masa lalu yang dapat merusak hubungan antarmanusia.
Lebih lanjut, artikel yang disadur dari siaran RRI Lhokseumawe ini menyoroti tantangan umat Muslim dalam mempertahankan konsistensi ibadah setelah bulan Ramadan berlalu. Menjaga kefitrahan jiwa berarti tetap membawa spirit disiplin, kejujuran, dan kepedulian sosial ke dalam kehidupan sehari-hari di luar bulan puasa. Ustadz Saifuddin mengingatkan bahwa ujian sesungguhnya dari keberhasilan "kembali ke fitrah" adalah sejauh mana kita mampu menahan hawa nafsu dan tetap istikamah dalam menjalankan perintah agama di tengah hiruk-pikuk kesibukan duniawi yang kembali normal.
Sebagai penutup, tausiyah sore ini mengajak para pendengar untuk menjadikan 17 Syawal ini sebagai titik tolak transformasi karakter yang lebih baik dan lebih peduli. Kembali ke fitrah adalah sebuah proses yang berkelanjutan, bukan sekadar status sementara di hari raya, sehingga cahaya kesucian Ramadan harus tetap terpancar dalam tutur kata dan perbuatan sepanjang tahun. Dengan memelihara nilai-nilai fitrah tersebut, diharapkan setiap individu dapat menjadi pribadi yang menebar kedamaian dan kemaslahatan bagi lingkungan sekitar, sesuai dengan ajaran Islam yang rahmatan lil 'alamin.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....