Mengenal InaTEWS, Sistem Peringatan Dini Tsunami di Indonesia

  • 31 Mar 2026 13:28 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Indonesia adalah negara kepulauan dengan keindahan alam yang memikat. Namun, di balik keindahan tersebut, tersimpan potensi bencana seperti gempa bumi dan tsunami.

Menurut laman BMKG, Indonesia berada di jalur Ring of Fire, kawasan aktif tempat lempeng tektonik bertemu. Kondisi ini membuat Indonesia memiliki risiko tinggi terhadap gempa dan tsunami.

Sejumlah peristiwa besar pun pernah terjadi, seperti Aceh 2004, Pangandaran 2006, Mentawai 2010, hingga Palu dan Donggala 2018. Sebagai langkah antisipasi, pemerintah mengembangkan Sistem Peringatan Dini Tsunami Indonesia atau InaTEWS.

Sistem ini didukung oleh jaringan alat pemantau gempa yang tersebar di berbagai wilayah untuk mendeteksi aktivitas secara cepat dan akurat. Ketika gempa terjadi, data segera dikirim ke BMKG untuk dianalisis.

Jika terdapat potensi tsunami, peringatan dini langsung disampaikan dalam waktu singkat kepada pemerintah daerah, media, dan masyarakat agar dapat bersiap. Informasi kemudian terus diperbarui, termasuk perkiraan wilayah terdampak dan tinggi gelombang. Setelah kondisi dinyatakan aman, BMKG akan mengumumkan bahwa ancaman telah berakhir.

Menurut laman Fakultas Teknik Departemen Teknik Geodesi UGM, 4 Oktober 2019, Tsunami dapat terjadi karena beberapa faktor utama berikut:

  1. Gempa bumi di bawah laut, Pergeseran lempeng di dasar laut dapat mendorong air dalam jumlah besar dan membentuk gelombang. Tsunami biasanya terjadi jika gempa cukup kuat, berada di kedalaman dangkal, dan menyebabkan pergerakan naik atau turun pada dasar laut.
  2. Letusan gunung berapi, Aktivitas gunung berapi di laut atau dekat pantai dapat mengganggu keseimbangan air laut. Letusan besar atau runtuhan material ke laut bisa memicu terbentuknya gelombang tsunami.
  3. Longsor bawah laut, Di dasar laut terdapat lereng dan endapan yang bisa runtuh. Pergerakan material ini dapat mendorong air laut dan menghasilkan gelombang besar, terutama jika dipicu oleh gempa.
  4. Hantaman meteor, Meskipun sangat jarang, benda luar angkasa yang jatuh ke laut dapat memindahkan air secara tiba-tiba dan memicu gelombang besar seperti tsunami.

Selain memahami penyebabnya, penting juga mengenali tanda-tanda awal tsunami, seperti air laut yang tiba-tiba surut, suara gemuruh dari arah laut, atau perilaku hewan yang tidak biasa. Jika tanda-tanda ini muncul, segera menjauh dari pantai dan cari tempat yang lebih aman.

Pada akhirnya, kesiapsiagaan tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kesadaran masyarakat. Dengan pemahaman yang baik dan respons yang cepat, dampak tsunami dapat diminimalkan. (DR)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....