Puasa Syawal, Amalan Ringan dengan Pahala Setahun Penuh

  • 28 Mar 2026 10:02 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID Lhokseumawe – Suasana hangat terasa dalam pengajian rutin di Masjid Al Hikmah, saat jamaah antusias menyimak penjelasan tentang keutamaan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal. Dalam kajian tersebut, ustadz Muhammad Fajar mengajak umat untuk tidak berati beribadah setelah Idul Fitri, melainkan melanjutkannya dengan amalan sunnah yang penuh keutamaan.

Dalam pemaparannya, Ustadz Muhammad Fajar menjelaskan bahwa puasa enam hari di bulan Syawal memiliki keistimewaan luar biasa. Ia mengutip hadits Rasulullah Muhammad yang menyebutkan bahwa siapa yang berpuasa Ramadan kemudian dilanjutkan dengan enam hari di Syawal, maka pahalanya seperti berpuasa selama satu tahun penuh. “Ini amalan ringan, tapi ganjarannya luar biasa besar,” ujarnya dengan gaya santai yang mudah dipahami jamaah.

Menurutnya, puasa Syawal juga menjadi tanda diterimanya ibadah di bulan Ramadan. Orang yang mampu menjaga konsistensi ibadah setelah Ramadan menunjukkan bahwa ia tidak hanya beribadah karena momen, tetapi karena kesadaran dan keimanan. “Kalau setelah Ramadan kita masih semangat ibadah, itu tanda kebaikan yang berlanjut,” tambahnya.

Ustadz Muhammad Fajar juga menjelaskan bahwa puasa Syawal tidak harus dilakukan secara berturut-turut. Jamaah diberi kemudahan untuk melaksanakannya kapan saja selama masih dalam bulan Syawal. Hal ini menjadi bentuk kasih sayang Allah SWT yang memberikan fleksibilitas bagi umat-Nya untuk tetap bisa meraih pahala besar meski dengan kesibukan sehari-hari.

Tak hanya dari sisi pahala, ia juga menyinggung manfaat puasa Syawal dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, puasa ini membantu menjaga pola hidup sehat setelah lebaran yang identik dengan konsumsi makanan berlebihan. Selain itu, puasa sunnah juga melatih kesabaran dan pengendalian diri, yang menjadi bekal penting dalam menjalani kehidupan.

Di akhir tausiyah, ia mengajak jamaah untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan di bulan Syawal. “Jangan sampai semangat ibadah kita hanya berhenti di Ramadan. Justru setelahnya, kita diuji apakah mampu istiqamah atau tidak,” pesannya. Kajian ini pun menjadi pengingat bahwa ibadah tidak mengenal batas waktu, dan setiap kesempatan adalah peluang untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....