Gak Cuma Cantik, Burung Ini Lebih Jago Mendaki Gunung Daripada Terbang!
- 27 Mar 2026 16:02 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Bagi para pecinta unggas, nama Chukar Partridge (Alectoris chukar) mungkin sudah tidak asing lagi. Di Indonesia, burung ini sering dijuluki sebagai "Puyuh Gonggong" karena suara kokokannya yang khas dan berirama cepat, menyerupai gonggongan kecil yang bersahutan.
Meski aslinya berasal dari wilayah Timur Tengah dan Asia Tengah, burung ini telah mencuri perhatian dunia karena ketangguhan dan keunikannya. Berikut adalah fakta-fakta menarik di balik keindahan bulu abu-abu dan merahnya:
1. Pendaki Gunung yang Tangguh
Berbeda dengan puyuh biasa yang lebih suka berdiam di semak rendah, Chukar adalah atlet pendaki sejati. Habitat aslinya adalah lereng gunung yang terjal, berbatu, dan kering. Mereka lebih suka berlari mendaki bukit daripada terbang saat merasa terancam.
2. Suara 'Chuk-kar' yang Ikonik
Nama "Chukar" sendiri diambil dari onomatope suara panggilannya. Bunyinya yang berulang-ulang, chuk-chuk-chukar-chukar, terdengar sangat nyaring di lembah-lembah pegunungan. Inilah alasan mengapa di beberapa daerah lokal Indonesia, ia mendapat predikat burung "gonggong".
3. Simbol Nasional Pakistan
Chukar bukan sekadar burung liar biasa. Di Pakistan, burung ini menyandang status sebagai Burung Nasional. Masyarakat setempat menganggap Chukar sebagai simbol kesetiaan dan keberanian karena kemampuannya bertahan hidup di cuaca ekstrem pegunungan Himalaya.
4. "Riasan Wajah" yang Tegas
Secara visual, Chukar sangat mudah dikenali. Ia memiliki garis hitam tebal yang melingkar dari dahi, melewati mata, hingga ke bagian leher, membentuk pola seperti kalung atau topeng. Ditambah paruh dan kaki yang berwarna merah menyala, burung ini tampak sangat modis di alam liar.
5. Pola Pertahanan Diri yang Unik
Jika predator mendekat, Chukar tidak langsung terbang. Mereka memanfaatkan pola garis-garis pada sayapnya sebagai kamuflase di antara bebatuan. Jika terpaksa, mereka akan terbang mendadak dengan suara kepakan sayap yang sangat keras untuk mengejutkan lawan, lalu meluncur turun ke lembah dengan kecepatan tinggi.
Di Indonesia, Chukar sering dipelihara sebagai burung hias karena kemudahan adaptasinya dan karakternya yang relatif tenang jika sudah terbiasa dengan manusia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....