Tanggal 24 Maret Diperingati Hari Tuberkulosis, Ini Sejarahnya
- 23 Mar 2026 18:00 WIB
- Merauke
RRI.CO.ID, Merauke:Tanggal 24 Maret diperingati Hari Tuberkulosis Sedunia. Hari Tuberkolosis Sedunia diciptakan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dengan tujuan meningkatkankan kesadaran masyarakat akan penyakit Tubekulosis (TBC).
Dikutib dari kemkes.go.id, pada tanggal 24 Maret 1882 Dr. Robert Koch, seorang dokter dan ilmuwan Jerman mengumumkan penemuan bakteri penyebab Tuberkulosis (TBC). Sejak saat itu, tanggal 24 Maret diperingati sebagai Hari TBC Sedunia (HTBS) yang menjadi simbol komitmen global untuk mengatasi penyakit yang masih menjadi momok mematikan.
Peringatan HTBS tidak hanya mengingatkan kita akan sejarah penting penemuan Dr. Koch, tetapi juga mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran tentang bahaya TBC dan mendukung upaya inovatif dalm diognosis serta pengobatan. Perjalanan panjang penemuan ini telah membuka jalan bagi kemajuan dalam bidang kesehatan, meskipun tantangan seperti kasus TBC yang resisten terhadap obat, ketidaksetaraan akses pengobatan, dan stigma sosial masih kerap menghambat penanggulangan penyakit ini.
Di Indonesia, TBC masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius. Berdasarkan Global TB Report 2024, Indonesia menempati posisi kedua dunia dalam hal beban kasus TBC setelah India. Diperkirakan terdapat 1.090.000 kasus TBC dan 125.000 kematian setiap tahun, yang berarti ada sekitar 14 kematian setiap jamnya. Pada tahun 2024, ditemukan sekitar 885 ribu kasus TBC, dengan distribusi yang menunjukkan bahwa 496 ribu kasus terjadi pada laki-laki, 359 ribu pada perempuan, serta 135 ribu kasus pada anak-anak usia 0-14 tahun. Statistik ini menegaskan urgensi peningkatan upaya pencegahan dan pengobatan di seluruh wilayah Indonesia.
Sebagai respons terhadap epidemi TBC, pemerintah Indonesia telah mengeluarkan Peraturan Presiden No. 67 Tahun 2021. Kebijakan ini mengusung strategi penanggulangan TBC yang komprehensif, mulai dari penguatan komitmen pemerintah di semua tingkatan hingga peningkatan akses layanan kesehatan yang berkualitas. Selain itu, optimalisasi promosi kesehatan dan pencegahan melalui pemberian pengobatan preventif serta pengendalian infeksi menjadi bagian dari upaya pemerintah. Inovasi riset dan pemanfaatan teknologi dalam skrining, diagnosis, dan tatalaksana TBC juga diintegrasikan untuk mempercepat eliminasi penyakit ini. Peran aktif komunitas dan kolaborasi multi sektor turut ditekankan untuk memastikan program ini dapat berjalan secara optimal, sekaligus memperkuat manajemen program melalui sistem kesehatan yang lebih terintegrasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....