Kenali Ciri Toxic Positivity yang Sering Tak Disadari

  • 16 Mar 2026 15:37 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Fenomena Toxic Positivity semakin sering dibahas dalam konteks kesehatan mental. Sikap ini muncul ketika seseorang memaksakan diri atau orang lain untuk selalu berpikir positif dalam situasi apa pun. Padahal, tidak semua keadaan dapat diselesaikan hanya dengan berpikir positif. Jika dilakukan secara berlebihan, sikap tersebut justru dapat mengabaikan emosi yang sebenarnya sedang dirasakan.

Dalam banyak kasus, masyarakat sering mendengar ungkapan seperti “positive vibes only” yang mendorong orang untuk selalu melihat sisi baik dari setiap situasi. Meskipun terdengar memotivasi, dorongan tersebut kadang justru membuat seseorang merasa tidak bebas mengekspresikan perasaan sedih, kecewa, atau marah. Menurut terapis pernikahan dan keluarga Samara Quintero, menyangkal emosi yang sebenarnya dapat membuat seseorang hidup tidak otentik terhadap dirinya sendiri. Hal ini juga dapat menghambat proses memahami dan menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi.

Salah satu ciri toxic positivity adalah memberikan pujian secara berlebihan. Pujian memang dapat membuat seseorang merasa dihargai dan termotivasi. Namun, ketika pujian diberikan secara tidak realistis atau terlalu sering, hal itu dapat terasa tidak tulus. Dalam beberapa kasus, pujian berlebihan justru digunakan untuk menutupi atau menghindari pembicaraan mengenai masalah yang sebenarnya terjadi.

Ciri lain yang sering muncul adalah menyuruh seseorang untuk selalu bersyukur atas apa yang dimilikinya. Kalimat seperti “kamu harusnya bersyukur” sering dianggap sebagai cara menghibur orang yang sedang mengalami kesulitan. Namun, pernyataan tersebut bisa membuat seseorang merasa perasaannya tidak dihargai. Akibatnya, orang tersebut mungkin memilih memendam emosi negatif yang sebenarnya perlu disampaikan dan dipahami.

Ungkapan “semua terjadi karena suatu alasan” juga sering menjadi bagian dari toxic positivity. Kalimat tersebut biasanya diucapkan dengan tujuan memberikan semangat. Akan tetapi, bagi orang yang sedang menghadapi masalah serius seperti kehilangan pekerjaan atau putus hubungan, kalimat itu justru bisa terasa menyakitkan. Pernyataan tersebut dapat menutupi realitas bahwa seseorang memang sedang mengalami masa sulit.

Selain itu, menyuruh seseorang untuk tersenyum saat mereka sedang sedih juga termasuk tanda toxic positivity. Tindakan tersebut sering kali dilakukan dengan niat baik agar orang lain merasa lebih baik. Namun, memaksa seseorang untuk tersenyum dapat membuat mereka merasa tidak dipahami. Emosi negatif yang tidak diakui justru bisa menumpuk dan menimbulkan tekanan emosional di kemudian hari.

Ciri lain yang sering terjadi adalah membandingkan masalah seseorang dengan pengalaman pribadi. Ketika seseorang sedang bercerita tentang kesulitannya, respon seperti “masalahku dulu lebih berat” bisa membuat mereka merasa diremehkan. Setiap orang memiliki pengalaman dan cara menghadapi masalah yang berbeda. Oleh karena itu, memahami dan mendengarkan perasaan orang lain secara empatik dianggap lebih membantu daripada memaksakan pandangan positif yang berlebihan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....