Olimpiade Musim Dingin 2026 dan Wajah Nasionalisme Modern

  • 25 Feb 2026 14:18 WIB
  •  Jayapura

RRI.CO.ID, Jayapura - Perhelatan Winter Olympics 2026 di Italia digelar pada 6 hingga 22 Februari 2026. Ajang olahraga musim dingin tersebut berlangsung di Milan dan Cortina d’Ampezzo dan telah resmi berakhir.

Menjelang pembukaan, minat publik dunia terhadap Olimpiade meningkat tajam di berbagai platform digital. Antusiasme itu menunjukkan, event olahraga internasional tetap memiliki daya tarik emosional lintas generasi.

Olimpiade bukan sekadar kompetisi memperebutkan medali emas di lintasan es dan salju. Ia menjadi panggung identitas bangsa, yang ditampilkan melalui simbol nasional dan seremoni kebudayaan.

Kajian dalam International Journal of Sport Policy and Politics, menyebut Olimpiade kerap berfungsi sebagai instrumen diplomasi publik. Peneliti menilai tuan rumah memanfaatkan ajang ini, untuk membangun citra positif dan legitimasi global.

Konsep tersebut sejalan dengan teori soft power yang diperkenalkan oleh Joseph Nye dalam berbagai publikasi akademiknya. Nye menegaskan pengaruh global tidak selalu dibangun melalui kekuatan militer, tetapi juga daya tarik budaya.

Italia memanfaatkan momentum ini dengan menampilkan kekayaan seni, desain, dan lanskap pegunungan Alpen dalam setiap seremoni resmi. Strategi tersebut memperlihatkan, bagaimana olahraga dipadukan dengan promosi identitas nasional di hadapan audiens dunia.

Riset dalam Journal of Sport and Social Issues, juga menunjukkan kemenangan atlet sering dimaknai simbol keberhasilan sistem nasional. Prestasi olahraga kemudian membangkitkan rasa bangga kolektif yang melampaui sekadar capaian individu di arena pertandingan.

Olimpiade Musim Dingin 2026 memang telah usai, namun dampak sosial budayanya masih terasa hingga kini. Olahraga internasional terus menjadi arena simbolik nasionalisme modern, sekaligus panggung pertarungan citra antarnegara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....