Bahaya Love Bombing

  • 23 Jan 2026 12:13 WIB
  •  Sibolga

RRI.CO.ID, Sibolga - Belakangan ini, istilah love bombing atau bom kasih sayang semakin sering muncul di media sosial. Sekilas terdengar romantis—siapa sih yang tidak senang dibanjiri perhatian, pujian, dan hadiah? Namun di balik manisnya perlakuan tersebut, love bombing justru bisa menjadi tanda awal hubungan yang toksik dan manipulatif.

Love bombing merupakan bentuk manipulasi psikologis yang dilakukan dengan cara memberikan perhatian berlebihan dalam waktu yang sangat singkat. Pelaku kerap menampilkan diri sebagai pasangan ideal: super perhatian, penuh pujian, dan terlihat sangat serius sejak awal perkenalan.

Menurut Dr. Dale Archer, psikolog klinis yang dikutip dari Psychology Today, love bombing sering kali menjadi pintu masuk menuju hubungan yang tidak sehat. Di tahap awal, pelaku berusaha menciptakan ikatan emosional yang kuat secepat mungkin agar korban merasa “spesial” dan sulit melepaskan diri.

Meski tampak tulus, tujuan utama love bombing bukanlah cinta, melainkan kontrol. Pelaku ingin mendominasi emosi dan keputusan pasangannya. Korban pun perlahan dibuat bergantung secara emosional, merasa hanya dihargai dan dicintai oleh satu orang tersebut. Pada fase ini, korban sering kali mengabaikan tanda bahaya karena sudah terlanjur merasa “dicintai sepenuh hati”. Inilah yang membuat love bombing sangat berbahaya—manipulasinya halus, cepat, dan sering kali tidak disadari.

Setelah pelaku merasa berhasil menguasai korban, hubungan biasanya memasuki fase berikutnya, yaitu devaluasi. Perhatian mulai ditarik, sikap berubah dingin, bahkan muncul kritik dan perlakuan merendahkan. Korban dibuat bingung dan berusaha keras “mengembalikan” versi manis pasangan seperti di awal hubungan.

Siklus ini dapat berlangsung berulang kali dan berdampak serius pada kesehatan mental korban, mulai dari kecemasan, rasa bersalah berlebihan, hingga kehilangan kepercayaan diri.

Kesehatan mental harus menjadi prioritas utama dalam menjalin hubungan asmara, terutama hubungan baru. Jika Anda merasa terjebak dalam hubungan yang manipulatif, segera cari bantuan—baik dari orang terpercaya maupun tenaga profesional seperti psikolog atau konselor. Bersikap kritis terhadap perhatian berlebihan bukan berarti anti-cinta, melainkan bentuk perlindungan diri dari manipulasi emosional.

Ingat, cinta yang sehat tidak membuat Anda kehilangan diri sendiri—justru seharusnya membuat Anda merasa aman, dihargai, dan berkembang

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....