Mitigasi Bermain Aman Perlu Ditanamkan sejak Dini

  • 03 Jul 2026 19:10 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – Keselamatan anak saat bermain di alam terbuka perlu menjadi perhatian bersama, terutama di masa libur sekolah ketika aktivitas anak di luar rumah meningkat. Edukasi mengenai mitigasi bermain aman dinilai penting agar anak dapat menikmati waktu bermain tanpa mengabaikan risiko kecelakaan.

Hal tersebut mengemuka dalam Dialog Tanggap Bencana RRI Surakarta bertema "Mitigasi Bermain Aman untuk Anak di Darat, Sungai, Gunung, dan Laut" yang menghadirkan Kepala Seksi Badan Koordinasi Penanggulangan Bencana (BKPB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Muhammad Sholihin, S.Ag., S.I.P., M.I.P., Survival/Mountain Rescue Fakultas Hukum UNS Muhammad Hayyun Al Farisky, serta Pegiat Kebencanaan dan Kemanusiaan Mahasiswa Fakultas Hukum UMS Surakarta Muhammad Naufal Nabil Aufa.

Sholihin menjelaskan bahwa mitigasi bermain aman bukan sekadar membatasi aktivitas anak, melainkan mengurangi risiko kecelakaan melalui edukasi sejak dini. "Mitigasi bermain aman untuk anak adalah bagaimana bermain dengan cara mengurangi risiko kecelakaan atau rasa sakit. Bermain tanpa risiko atau mitigasi ini kita sampaikan dengan edukasi. Jadi, boleh bermain, yang tidak boleh adalah bermain di tempat-tempat yang berbahaya," ujarnya.

Menurutnya, edukasi keselamatan tidak hanya diberikan kepada anak usia dini, tetapi juga remaja. Sebab, semakin besar usia anak, bukan berarti semakin kecil potensi kecelakaannya. "PAUD sampai bahkan anak SMA itu juga masih perlu kita edukasi. Karena kalau sudah senang, kadang lupa dengan bahaya yang ditimbulkan dari permainan itu, " katanya.

Ia mencontohkan pentingnya mengenalkan risiko saat bermain di tepi sungai, pantai, maupun pegunungan, termasuk mengenali arus sungai, ombak, hingga area yang licin atau curam.

Orang tua dan pengelola wisata harus berperan aktif

Sholihin menegaskan, ketika terjadi kecelakaan saat anak bermain, kesalahan tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada orang tua. Menurutnya, pengelola tempat wisata juga memiliki tanggung jawab menyediakan fasilitas keselamatan.

"Pengelola arena bermain harus menyediakan titik kumpul, APAR, ambulans atau mobil siaga. Selain itu, yang paling penting adalah rambu-rambu agar anak tahu mana area yang boleh dan tidak boleh dimasuki." ujarnya.

Meski demikian, pengawasan orang tua tetap menjadi faktor utama. Ia bahkan menyarankan orang tua tidak sekadar mengawasi dari jauh, tetapi ikut terlibat dalam aktivitas bermain. "Orang tua ikut bermain bersama anak itu lebih penting. Jadi bukan hanya mengawasi dari kejauhan," ucapnya.

Edukasi keselamatan perlu diperluas

Menurut Sholihin, materi keselamatan bermain belum banyak dibahas dibanding mitigasi bencana secara umum. Karena itu, edukasi dapat dimasukkan dalam kegiatan sekolah maupun komunitas masyarakat.

"Kalau di masyarakat bisa melalui komunitas, PKK, RT, atau kegiatan-kegiatan kemasyarakatan. Ini masih jarang, padahal sangat penting."

Ia berharap budaya keselamatan dapat tumbuh sejak usia dini. Dilembaga pendidikan mulai ada edukasi tentang keselamatan bermain, penyelenggara wisata menyediakan fasilitas kedaruratan. Yang paling penting adalah masyarakat sadar bahwa perlengkapan keselamatan itu untuk melindungi dirinya sendiri.

Konten media sosial jangan mengabaikan keselamatan

Pegiat Kebencanaan dan Kemanusiaan Mahasiswa Fakultas Hukum UMS Surakarta, Muhammad Naufal Nabil Aufa, menyoroti tren anak muda membuat konten di lokasi ekstrem demi media sosial. Menurutnya, aktivitas tersebut tidak menjadi masalah selama aspek keselamatan tetap menjadi prioritas.

"Membuat konten untuk kebutuhan media sosial sebenarnya tidak masalah. Cuma yang perlu terus diingatkan adalah safety dan keamanan ketika membuat konten, terutama di tempat-tempat alam."ucapnya

Ia menilai meningkatnya tren tersebut juga meningkatkan potensi kecelakaan apabila dilakukan tanpa persiapan. Naufal juga mengingatkan pentingnya penanganan awal ketika menemukan korban kecelakaan.

Selain itu, masyarakat juga diimbau tidak memberikan minum kepada korban yang masih mengalami syok karena berisiko menyebabkan tersedak.

Persiapan menjadi kunci keselamatan di gunung

Sementara itu, Survival/Mountain Rescue Fakultas Hukum UNS Muhammad Hayyun Al Farisky menilai sebagian besar kecelakaan pendakian terjadi akibat kurangnya persiapan."Kesalahan yang paling sering dilakukan pendaki adalah tidak mempersiapkan fisik dan mental."ucapnya.

Menurutnya, banyak pendaki hanya berfokus mencapai puncak tanpa memperhatikan kondisi tubuh. "Naik gunung adalah olahraga ekstrem. Pemanasan itu penting, bukan hanya kaki tetapi seluruh tubuh."katanya.

Hayyun juga mengingatkan setiap pendaki membawa perlengkapan darurat sederhana seperti peluit, P3K, emergency blanket, dan hand warmer. Ia menjelaskan tanda-tanda hipotermia yang harus dikenali sejak dini, mulai dari menggigil hebat, bicara mulai tidak jelas, hingga merasa kepanasan dan ingin melepas pakaian meski suhu dingin.

Menurutnya, kondisi tersebut harus segera ditangani dengan menjaga suhu tubuh korban tetap hangat dan segera melakukan evakuasi. Masyarakat, khususnya generasi muda, terus belajar memahami alam sebelum melakukan aktivitas di luar ruang.

Ketiga narasumber sepakat bahwa budaya mitigasi keselamatan tidak cukup dilakukan saat terjadi bencana, tetapi harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Edukasi, pengawasan, kesiapsiagaan, serta kepedulian terhadap keselamatan diri dinilai menjadi kunci untuk mencegah kecelakaan, terutama pada anak-anak yang sedang menikmati masa bermain maupun liburan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....