GARENG Ajak Masyarakat Lestarikan Sungai Dengkeng
- 27 Jun 2026 03:05 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Kelestarian Sungai Dengkeng tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau komunitas tertentu. Dibutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat untuk menjaga ekosistem sungai yang menjadi sumber kehidupan bagi sebagian besar wilayah Kabupaten Klaten. Hal inilah yang menjadi semangat berdirinya Forum Garda Rekso Dengkeng (GARENG), sebuah komunitas yang fokus pada pelestarian Sungai Dengkeng dan kawasan Sub Daerah Aliran Sungai (Sub DAS) Dengkeng.
Salah satu narasumber, Endah Sulistyowati dari Forum GARENG menjelaskan, komunitas tersebut terbuka bagi siapa saja yang memiliki kepedulian terhadap kelestarian sungai. GARENG mengusung konsep kolaborasi pentahelix dengan melibatkan komunitas, pemerintah, akademisi, media, hingga dunia usaha.
"Siapapun boleh bergabung di kami dan nanti konsennya hanya satu, mau ikut menjaga ekosistem sungai itu," ujar Endah.
Menurut Endah, Forum GARENG memiliki visi mewujudkan ekosistem Sub DAS Dengkeng yang harmonis, lestari, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. "Visi kami adalah terwujudnya ekosistem Sub DAS Dengkeng yang harmoni, lestari, dan menyejahterakan.
Bagaimana air itu juga bisa menyejahterakan masyarakat yang dilewati di Sub DAS itu," kata Endah saat dialog di program Obrolan Komunitas RRI Surakarta, Selasa, 23 Juni 2026. Sementara itu, Joko Harjono menjelaskan bahwa komunitas GARENG lahir dari keresahan berbagai pihak terhadap kondisi Sungai Dengkeng.
Berawal dari diskusi para pegiat lingkungan sekitar tiga tahun lalu, forum ini kemudian berkembang menjadi wadah bersama yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. "Garda Rekso Dengkeng itu sebenarnya sudah dirintis sejak kurang lebih tiga tahun yang lalu. Berawal dari obrolan teman-teman terkait kondisi Sungai Dengkeng hingga akhirnya kita sepakat membentuk forum kepedulian terhadap sungai ini," ucap Joko.
Ia menjelaskan, Sungai Dengkeng memiliki peran penting karena menjadi daerah tangkapan air bagi sebagian besar wilayah Kabupaten Klaten sebelum bermuara ke Bengawan Solo. Kondisi tersebut membuat keberadaan sungai sangat menentukan kebutuhan air masyarakat, pertanian, hingga pariwisata.
Namun, berbagai persoalan masih ditemukan di sepanjang aliran sungai. Melalui kegiatan susur sungai, Forum GARENG memetakan sejumlah masalah utama, seperti penumpukan sampah, pencemaran limbah domestik dan peternakan, hingga sedimentasi yang memicu banjir.
"Teman-teman komunitas melihat bahwa memang di aliran sungai pertama adalah sampah. Kemudian potensi yang kedua limbah, termasuk limbah peternakan. Selain itu sedimentasi juga tinggi sehingga sungai menjadi dangkal dan air mudah meluap," kata Endah.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Forum GARENG menjalankan berbagai program konservasi. Di antaranya penanaman pohon produktif seperti alpukat dan kopi di kawasan hulu, susur sungai, edukasi pengelolaan sampah, penguatan Sekolah Adiwiyata, hingga pengembangan Desa Program Kampung Iklim (Proklim).
Menurut Joko, upaya konservasi tidak hanya bertujuan menjaga lingkungan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan tanaman produktif dan skema imbal jasa lingkungan. "Kita menghimpun potensi vegetasi yang bisa ditanam oleh teman-teman komunitas di hulu. Mereka memilih tanaman buah-buahan maupun perkebunan seperti kopi dan alpukat, sehingga selain menjaga lingkungan juga memiliki nilai ekonomi," ujarnya.
Selain kegiatan konservasi fisik, edukasi menjadi pendekatan utama yang terus dikembangkan. Endah menilai perubahan perilaku masyarakat harus dimulai sejak usia dini melalui pengalaman langsung di lingkungan sekitar.
"Pendekatan yang saya gunakan lebih ke humanisme. Anak-anak kami ajak mengasuh sungai yang ada di dekat sekolah. Setelah mereka paham fungsi sungai dan dampak membuang sampah, akhirnya mereka ikut terlibat mengelola sungai," ucapnya.
Di akhir dialog, kedua narasumber mengajak masyarakat untuk menjadi pelopor dalam menjaga kelestarian sungai. Mereka berharap kepedulian terhadap lingkungan dimulai dari tindakan sederhana, seperti tidak membuang sampah ke sungai, menggunakan air secara bijak, serta mengajarkan nilai-nilai pelestarian lingkungan kepada generasi muda.
"Mari kita bersama-sama menjaga sumber daya alam dan ekosistem kita. Bagi masyarakat di hulu, mari ambil bagian dalam konservasi. Bagi yang di tengah dan hilir, gunakan air secara bijaksana dan cegah pembuangan sampah maupun limbah ke sungai," kata Joko.
Senada dengan itu, Endah mengajak masyarakat untuk menjadi contoh dalam menjaga lingkungan. "Jadilah pelopor untuk diri sendiri. Ubah perilaku yang tidak baik terhadap sungai. Air harus kita muliakan, sungai harus kita lestarikan. Salam sungai lestari," kata Endah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....