Gen Alpha Perlu Karakter Kokoh di Era Digital

  • 12 Jun 2026 17:35 WIB
  •  Banda Aceh

RRI. CO. ID, Banda Aceh - Kemajuan teknologi digital telah menghadirkan berbagai kemudahan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, di balik manfaat tersebut, muncul tantangan baru dalam membentuk karakter generasi muda, khususnya Generasi Alpha yang lahir dan tumbuh di era teknologi yang serba cepat.

Founder Kahfis, Bunda Dayah, mengungkapkan pentingnya pendidikan karakter sebagai fondasi utama bagi Generasi Alpha agar mampu memanfaatkan teknologi secara bijak.

Menurut Bunda Dayah, Generasi Alpha merupakan kelompok anak yang lahir pada rentang 2010 hingga 2024. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang telah akrab dengan internet, media sosial, hingga kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), sehingga memiliki karakter yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.

“Generasi Alpha lahir langsung di tengah ekosistem teknologi. Mereka sangat dekat dengan perangkat digital dan memiliki kemampuan beradaptasi yang cepat terhadap perkembangan teknologi,” ujarnya dalam perbincangan bersama RRI Banda Aceh Kamis 11 Juni 2026.

Meski demikian, kedekatan dengan teknologi juga menghadirkan tantangan tersendiri. Anak-anak berpotensi mengalami ketergantungan terhadap gawai dan berkurangnya interaksi sosial apabila tidak dibimbing dengan baik sejak dini.

Bunda Dayah menilai tugas utama orang tua saat ini bukan menjauhkan anak dari teknologi, melainkan membekali mereka dengan karakter yang kuat sebelum terjun lebih jauh ke dunia digital.

“Anak harus lebih dulu memahami adab, aturan, serta nilai benar dan salah. Jika karakter dasarnya sudah terbentuk, maka saat menggunakan teknologi mereka akan membawa nilai-nilai itu ke dalam kehidupan digitalnya,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa adab menjadi nilai paling mendasar dalam pembentukan karakter. Mulai dari cara menyapa orang lain, menghormati yang lebih tua, bersikap kepada teman sebaya, hingga membangun hubungan dengan Tuhan melalui penguatan akidah dan ibadah.

Menurutnya, karakter yang baik akan terlihat dalam perilaku sederhana sehari-hari. Anak yang terbiasa diajarkan kejujuran dan tanggung jawab sejak kecil akan membawa kebiasaan tersebut dalam berbagai situasi, termasuk saat berinteraksi di ruang digital.

Dalam kesempatan itu, Bunda Dayah juga mengingatkan bahwa teknologi pada dasarnya bersifat netral. Manfaat atau mudarat yang ditimbulkan sangat bergantung pada karakter orang yang menggunakannya.

“Teknologi itu seperti pisau. Bisa digunakan untuk hal yang bermanfaat, tetapi juga bisa disalahgunakan. Karena itu yang harus dibangun terlebih dahulu adalah manusianya,” jelasnya.

Di sisi lain, ia mengakui bahwa Generasi Alpha memiliki banyak potensi positif. Mereka dikenal kreatif, cepat belajar, memiliki rasa ingin tahu tinggi, serta mudah beradaptasi dengan teknologi baru. Kemampuan tersebut dapat menjadi modal besar untuk menghadapi tantangan masa depan apabila dibarengi dengan penguatan nilai moral dan spiritual.

Dalam lingkungan pendidikan, Bunda Dayah mendorong sekolah untuk menerapkan metode pembelajaran yang lebih kreatif dan sesuai dengan karakter Generasi Alpha. Menurutnya, pendekatan konvensional yang monoton akan sulit menarik perhatian anak-anak yang terbiasa dengan visual dan teknologi interaktif.

“Guru perlu memahami dunia anak. Ketika guru mampu masuk ke dunia mereka, maka pesan-pesan karakter akan lebih mudah diterima,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa kecerdasan digital harus berjalan beriringan dengan kecerdasan spiritual. Penguatan nilai keagamaan sejak dini dinilai menjadi benteng penting agar anak mampu menyaring berbagai informasi dan pengaruh negatif yang beredar di internet.

Selain itu, orang tua perlu menetapkan aturan yang jelas terkait penggunaan gawai dan media digital. Anak harus memahami batasan antara hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan, sekaligus belajar bahwa setiap keinginan tidak selalu harus terpenuhi secara instan.

“Anak perlu memahami bahwa untuk mendapatkan sesuatu harus ada usaha dan proses. Mental seperti inilah yang akan membuat mereka lebih kuat menghadapi tantangan kehidupan,” ujarnya.

Menutup dialog, Bunda Dayah mengajak para orang tua dan pendidik untuk terus belajar mengikuti perkembangan zaman agar dapat mendampingi Generasi Alpha secara optimal.

Menurutnya, teknologi akan terus berkembang, tetapi karakter yang kuat akan menjadi bekal utama bagi anak-anak untuk menghadapi perubahan apa pun di masa depan.

“Mereka adalah calon pemimpin masa depan. Jika memiliki karakter yang baik, mental yang kuat, dan mampu memanfaatkan teknologi secara bijak, maka mereka akan siap menghadapi tantangan di era yang akan datang,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....