Cuaca Pancaroba Intai Wisatawan, Pemerhati Lingkungan Ingatkan Mitigasi

  • 08 Jun 2026 20:43 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID,Lhokseumawe— Momen akhir pekan (weekend) merupakan waktu krusial bagi masyarakat untuk melepaskan penat dan melakukan penyegaran (refreshing) bersama keluarga. Di wilayah Lhokseumawe dan sekitarnya, keterbatasan fasilitas hiburan modern membuat masyarakat cenderung menjatuhkan pilihan pada destinasi wisata alam, baik ke kawasan sungai maupun pantai.

Namun, animo yang tinggi ini dinilai perlu dibarengi dengan kewaspadaan ekstra. Pemerhati lingkungan hidup, Dahlan M. Isa, mengingatkan masyarakat untuk lebih selektif dalam memilih destinasi berlibur menyusul kondisi cuaca pancaroba yang tidak menentu, serta potensi ancaman bencana yang sewaktu-waktu dapat terjadi akibat kerusakan ekologis.

Dahlan menjelaskan bahwa meski berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) wilayah Aceh telah memasuki masa El Nino atau musim kemarau, anomali cuaca berupa hujan lebat secara tiba-tiba masih kerap melanda beberapa kawasan.

"Kita lihat yang disampaikan oleh BMKG, kita sudah masuk pada masa El Nino, musim panas, tapi juga terjadi hujan tiba-tiba. Di beberapa daerah terjadi hujan mendadak, seperti yang terjadi di wilayah timur beberapa malam lalu. Hal ini sangat berpengaruh terhadap aktivitas wisata ke sungai maupun laut," ujar Dahlan saat memberikan keterangannya, Senin 8 Juni 2026.

Oleh karena itu, Dahlan menekankan pentingnya sikap responsif dan kepedulian (respect) dari berbagai pihak, terutama bagi para kepala keluarga yang membawa serta anak-anak mereka ke lokasi wisata air, guna mencegah terjadinya kecelakaan atau korban jiwa.

Dahlan memaparkan bahwa tren berwisata ke alam bebas saat ini terus meningkat. Sebagian besar masyarakat kini cenderung menghindari suasana perkotaan dan memilih bertolak ke luar daerah, seperti ke Aceh Utara, Bireuen, hingga ke wilayah pegunungan di Takengon dan Bener Meriah.

Hal ini dipicu oleh masih minimnya opsi hiburan urban di wilayah Lhokseumawe sendiri.

"Kalau di wilayah kita ini Lhokseumawe, pilihan belanja (shopping) paling ke mal yang jumlahnya sangat terbatas, selebihnya ke pasar tradisional untuk pakaian atau kuliner. Ketersediaan fasilitas seperti itu masih kurang, sehingga masyarakat pasti akan memilih wisata alam," tambahnya.

Tak hanya faktor kelalaian manusia (human error), kondisi lingkungan fisik destinasi wisata alam di Aceh saat ini juga berada dalam status rawan akibat kerusakan kawasan hutan. Perubahan kondisi hutan penangkap air mengakibatkan debit dan karakteristik aliran sungai menjadi tidak menentu dan sangat berbahaya bagi aktivitas pemandian.

"Wisata alam terutama sungai perlu kita lihat sendiri kondisinya sekarang. Karena adanya kerusakan hutan kita, keadaannya jadi sangat berbahaya. Sungainya sudah tidak asli lagi. Ketika kita sedang mandi-mandi, tiba-tiba di hulu terjadi hujan, air langsung membawa banjir bandang. Itu yang perlu diwaspadai," kata Dahlan secara tegas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....