Meugang, Jalinan Sempurna antara Budaya, Ibadah, dan Solidaritas Sosial
- 25 Mei 2026 19:59 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID,Lhokseumawe- Aroma masakan daging berbumbu khas Aceh tercium pekat dari rumah-rumah warga di Kota Lhokseumawe. Bagi masyarakat Serambi Mekkah, hiruk-piruk ini menandakan satu hal: hari Meugang telah tiba.
Tradisi menyembelih hewan ternak sapi atau kerbau dan menyantapnya bersama keluarga menyambut bulan suci Ramadan atau hari raya bukan sekadar ritual kuliner. Meugang adalah ruang temu di mana budaya, ibadah, dan solidaritas sosial melebur menjadi satu identitas yang utuh.
Tokoh masyarakat Kota Lhokseumawe, Yuswardi Mustafa, menyebutkan bahwa Meugang adalah salah satu warisan peradaban Aceh yang paling tangguh karena mampu bertahan melintasi berbagai zaman.
"Meugang itu bukan cuma soal memotong lembu dan makan daging enak. Di dalamnya ada nilai teologis (keagamaan) dan sosiologis yang sangat kuat," ujar Yuswardi, Senin 25 Mei 2026.
Secara historis, tradisi ini konon dimulai sejak masa Kesultanan Aceh Darussalam sebagai bentuk rasa syukur Sultan menyambut bulan suci. Dalam perkembangannya, masyarakat merawat tradisi ini sebagai bagian dari persiapan spiritual.
Menurut Yuswardi, aspek ibadah dalam Meugang terletak pada kegembiraan menyambut datangnya bulan Ramadan atau hari kemenangan. Rasa gembira ini diwujudkan dengan menyajikan hidangan terbaik untuk keluarga tercinta.
"Dalam Islam, menyambut Ramadan dengan sukacita adalah bagian dari syiar. Meugang menjadi sarana fisik untuk memuliakan bulan suci tersebut. Kita mempersiapkan tubuh dan jiwa dengan makanan yang baik dan halal sebelum memasuki bulan puasa," jelasnya.
Namun, inti terdalam dari Meugang yang membuatnya begitu sakral bagi orang Aceh adalah nilai solidaritas sosialnya. Daging sapi saat Meugang bukanlah komoditas murah; harganya kerap melonjak tinggi di pasar-pasar Lhokseumawe. Di sinilah ujian kepedulian antarsesama dimulai.
Yuswardi menekankan bahwa Meugang memotong sekat-sekat sosial antara si kaya dan si miskin. Tradisi ini menuntut lingkungan sekitar untuk memastikan bahwa pada hari itu, tidak boleh ada satu pun asap dapur tetangga yang tidak mengepulkan aroma daging.
"Filosofi mendasar dari Meugang adalah kebersamaan. Jangan sampai kita makan daging, sementara tetangga sebelah kita hanya mencium baunya saja. Solidaritas inilah yang menjaga harmoni sosial di Aceh, khususnya di Lhokseumawe," tegas Yuswardi Mustafa.
Ia menambahkan, di era modern seperti sekarang, bentuk solidaritas ini bertransformasi. Banyak kelompok masyarakat, komunitas, hingga instansi di Lhokseumawe yang berinisiatif mengumpulkan dana jauh-jauh hari melalui sistem meuripee (patungan) atau sedekah spontan untuk membeli lembu, yang dagingnya kemudian dibagikan kepada yatim piatu dan kaum dhuafa.
Di tengah arus modernisasi dan tantangan ekonomi, Yuswardi berharap generasi muda Lhokseumawe tidak melihat Meugang sebagai beban finansial atau sekadar "pesta makan daging".
"Tantangannya adalah bagaimana menjaga esensi Meugang agar tidak bergeser menjadi ajang pamer atau konsumerisme. Nilai intinya adalah berbagi dan silaturahmi. Ketika anak yang merantau pulang demi Meugang, di situlah budaya menghormati orang tua dan merajut kembali hubungan keluarga terjadi," pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....