Program MBG Dinilai Dongkrak Ekonomi, Pengamat Ingatkan Risiko Inflasi
- 27 Apr 2026 12:30 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Program MBG dinilai memiliki potensi besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui peningkatan aktivitas produksi dan konsumsi masyarakat. Namun, di balik peluang tersebut, terdapat risiko inflasi yang perlu diantisipasi sejak awal.
Pengamat Ekonomi Syariah, Prof. Apridar, menyebutkan bahwa meningkatnya permintaan terhadap berbagai kebutuhan, seperti bahan makanan, telur, dan daging ayam, menjadi konsekuensi dari bergeliatnya aktivitas ekonomi akibat program tersebut.
Menurutnya, kondisi ini dapat berdampak positif jika mampu dimanfaatkan dengan baik, terutama dengan memperkuat produksi pangan Lokal. Dengan begitu, perputaran ekonomi lokal akan semakin meningkat dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Namun demikian, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala (USK) Apridar mengingatkan bahwa lonjakan permintaan tanpa diimbangi ketersediaan barang dapat memicu kenaikan harga. Secara teori, ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan akan mendorong terjadinya inflasi.
“Permintaan meningkat, tetapi barang tidak bertambah atau persediaan terbatas. Kondisi ini tentu akan memicu inflasi,” ujarnya. Senin 27 April 2026.
Ia juga mempertanyakan kesiapan dalam mengantisipasi kondisi tersebut, mengingat stabilitas harga sangat bergantung pada ketersediaan pasokan di pasar. Oleh karena itu, Apridar menegaskan pentingnya perencanaan yang matang dalam pelaksanaan program MBG agar dampak positifnya dapat dirasakan tanpa menimbulkan tekanan inflasi.
“Program MBG ini sangat baik namun harus dirancang dengan baik dan terukur, sehingga mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi tanpa memicu kenaikan harga yang berlebihan,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....