Prakiraan Harga Emas Pekan Depan di Tengah Gejolak Perang dan Politik di AS
- 20 Sep 2026 19:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Harga emas dunia diprakirakan akan mengalami fluktuasi yang tajam pekan depan karena tekanan faktor eksternal, yang akan mempengaruhi harga logam mulia di dalam negeri
- Gejolak global juga akan mempengaruhi pergerakan indeks dolar AS, nilai tukar rupiah dan harga minyak diprakirakan masih tinggi
- Konflik geopolitik, pertarungan politik di AS dan kebijakan suku bunga bank sentral AS masih menjadi pemicu utama pergerakan nilai tukar mata uang dan harga komoditas
RRI.CO.ID, Jakarta - Harga emas dunia diprakirakan akan mengalami fluktuasi yang tajam pekan depan karena tekanan faktor eksternal. Kondisi itu akan mempengaruhi harga logam mulia di dalam negeri yang mulai merangkak naik akhir pekan kemarin.
Eskalasi konflik Timur Tengah, akan menjadi pemicu utama fluktuasi harga emas dunia. Situasi perpolitikan di Amerika Serikat jelang pemilu sela serta kebijakan bank sentral AS ikut mempengaruhi pergerakan harga emas,” kata Analis Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi di Jakarta, Minggu, 20 September 2026.
Menurut Ibrahim, harga emas dunia pada akhir pekan ini bergerak naik dan ditutup di level USD4.378 per troy ons. Untuk sepekan ke depan, harga emas diprakirakan bergerak di level support USD4.250 dan level resistennya USD4.533 per troy ons.
“Sehingga harga logam mulia minggu depan, diprakirakan bergerak di rentang Rp2,62 juta per gram untuk level support. Sedangkan di level resistansi harga logam mulia diprakirakan sebesar Rp2,82 juta per gram,” ujar Ibrahim.
Sementara itu, Ibrahim memprakirakan harga minyak dunia pekan masih tinggi antara USD90,30-USD102,50 per barel. Sedangkan indeks dolar AS diprakirakan akan bergerak di level 99,40 hingga 101,20.
“Sehingga ada kemungkinan nilai tukar rupiah akan kembali di atas Rp18.000 per dolar AS. Kalau rupiah kembali di atas 18 ribu, sangat wajar kalau harga logam mulia menuju level Rp2,82 juta per gram pekan depan,” ujar Ibrahim.
Menurutnya, konflik geopolitik yang terus berlanjut di Timur Tengah menyebabkan harga minyak masih tinggi. Pertikaian antara kelompok Houthi dan Arab Saudi serta AS dan Iran membuat lalu lintas pasokan minyak terganggu.
Pada saat yang sama, perang antara Rusia dan Ukraina kembali memanas, dan menargetkan kilang-kilang minyak. Kondisi itu semakin memperburuk ketersediaan pasokan minyak dunia.
Di sisi lain, terjadi pertarungan sengit antara Partai Republik dan Partai Demokrat menjelang pemilu sela di AS. Dukungan Trump terhadap Zionis Israel hingga politik uang yang dilakukan Trump, menjadi isu panas jelang pemilu bulan November mendatang.
“Situasi politik yang memanas di AS mendorong bank-bank sentral global memindahkan cadangan emasnya dari AS ke Eropa. Utamanya ke London, Inggris,” ucap Ibrahim.
Pada saat yang sama, terjadi ketegangan antara Presiden Trump dan Ketua the Fed, Kevin Warsh terkait kebijakan suku bunga. Trump tetap menginginkan suku bunga diturunkan, namun the Fed malah menaikkan suku bunga di bulan September ini.
Kombinasi kekisruhan geopolitik dan kebijakan suku bunga di AS, membuat ketidakpastian masih tinggi. Sehingga menimbulkan gejolak pada nilai tukar mata uang dan harga komoditas utama dunia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....