Reaktivasi Sumur Idle Didorong Lebih Cepat untuk Perkuat Ketahanan Energi

  • 12 Sep 2026 13:59 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Program reaktivasi sumur minyak menganggur atau idle wells didorong berjalan lebih cepat untuk mendukung peningkatan produksi minyak nasional. Langkah tersebut dinilai penting memperkuat ketahanan energi Indonesia di tengah kebutuhan minyak domestik yang terus meningkat saat ini.

"Reaktivasi sumur idle berpotensi menjadi langkah cepat meningkatkan produksi minyak nasional. Sumur idle umumnya memiliki data reservoir, fasilitas permukaan, serta infrastruktur dasar yang mendukung pengaktifan kembali secara efisien," kata Insinyur Praktisi Energi Hulu Luqman Saifudin dalam keterangannya pers tertulis, Sabtu, 12 September 2026.

Program Kemitraan Idle Wells Batch 2 disosialisasikan Pertamina Hulu Energi bersama Kementerian ESDM dan SKK Migas September 2025. Kegiatan tersebut dihadiri lebih dari 200 praktisi serta perwakilan 91 calon perusahaan mitra yang tertarik mengikuti program tersebut.

Luqman mengatakan proses pemilihan calon mitra masih berlangsung dengan penandatanganan perjanjian kerja sama diproyeksikan pada Oktober 2026 mendatang. Evaluasi proposal teknis dan klarifikasi berlangsung pada Agustus hingga September, setelah tahapan pembukaan data dan kunjungan lapangan sebelumnya.

Penyusunan key terms dan konsinyering dijadwalkan berlangsung hingga Oktober sebelum penandatanganan perjanjian kerja sama dilakukan bersama calon mitra. Menurut Luqman, percepatan diperlukan karena penandatanganan kerja sama belum langsung menghasilkan tambahan produksi minyak dari sumur idle tersebut.

Setelah kerja sama disepakati, lanjut Luqman, masih diperlukan pekerjaan teknis seperti mobilisasi rig, well service, workover, re-perforation, serta pekerjaan pendukung. Luqman menilai percepatan proses tetap harus memperhatikan prinsip kehati-hatian dan tata kelola perusahaan baik dalam menentukan calon mitra.

"Namun, proses pengambilan keputusan perlu dilakukan efisien agar peluang penambahan lifting minyak tidak tertunda terlalu lama. Keterlambatan reaktivasi dapat meningkatkan risiko kerusakan fisik sumur, termasuk korosi casing, pembentukan scale, parafin, serta kepasiran,"kata Luqman.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya reaktivasi apabila sumur terlalu lama tidak mendapatkan servicing dan perawatan teknis secara memadai. Selain itu, ketidakpastian jadwal dinilai dapat memengaruhi minat calon mitra maupun investor yang telah menyiapkan modal kerja program.

Luqman menilai peningkatan produksi minyak domestik semakin penting di tengah kebutuhan Indonesia terhadap minyak mentah dan bahan bakar impor. Menurut dia, dinamika geopolitik, konflik kawasan penghasil energi, serta gangguan jalur logistik internasional dapat meningkatkan risiko pasokan energi.

Karena itu, peningkatan produksi minyak dalam negeri perlu ditempatkan sebagai bagian strategi memperkuat ketahanan energi nasional secara berkelanjutan. Untuk mempercepat program, Luqman mengusulkan pembentukan satuan tugas khusus lintas instansi melibatkan Kementerian ESDM, SKK Migas, dan Pertamina.

Satgas tersebut dinilai perlu memiliki kewenangan mempercepat persetujuan kerja sama dengan indikator jumlah sumur kembali berproduksi setiap kuartal. Ia juga mendorong penerapan parallel processing agar evaluasi teknis, komersial, dan legal dapat berjalan bersamaan tanpa menunggu tahapan.

Menurut Luqman, fleksibilitas model bisnis dan skema komersial diperlukan untuk membagi risiko secara proporsional antara operator dan mitra. Kemudahan akses data teknis seperti well logging, sejarah tekanan reservoir, serta kondisi wellbore dinilai mempercepat kajian calon mitra.

Menurut dia, persoalan utama yang perlu dibenahi adalah kecepatan pengambilan keputusan serta penyederhanaan proses birokrasi dalam pelaksanaan. “Ketahanan energi tidak dapat dibangun di atas nota dinas yang tertahan di meja rapat,” ujar Luqman dalam keterangannya.

"Ketahanan energi perlu diukur dari kemampuan meningkatkan produksi minyak domestik dan menjamin pasokan bagi kilang nasional. Percepatan tersebut perlu menjadi perhatian Kementerian ESDM, SKK Migas, dan Pertamina untuk mendukung peningkatan produksi minyak nasional," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....