UMKM BISA Ekspor, 70 Persen Peserta Belum Pernah Ekspor
- 09 Sep 2026 22:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut 70 persen peserta UMKM BISA Ekspor belum pernah melakukan ekspor.
- Kemendag menghubungkan pelaku UMKM dengan calon buyer melalui 46 perwakilan perdagangan di 33 negara.
- Program UMKM BISA Ekspor mencatat transaksi USD333 juta pada Januari-Juli 2026, naik dari USD134,8 juta pada 2025.
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut rata-rata 70 persen peserta program UMKM BISA Ekspor belum pernah melakukan ekspor. Budi mengatakan pelaku usaha yang belum pernah ekspor tetap dapat melakukan ekspor dengan memenuhi persyaratan kualitas dan kesinambungan produk.
“Dan semuanya yang ikut UMKM BISA Ekspor ini rata-rata 70 persen belum pernah ekspor. Jadi Bapak/Ibu enggak usah khawatir, kalau belum pernah ekspor itu bisa aja ekspor,” ujar Budi dalam Pembukaan Pelatihan Gapai Pasar Global dengan AI bersama META di Kantor Kemendag, Jakarta, Rabu, 9 September 2026.
Budi menjelaskan, program UMKM Bisa Ekspor menghubungkan pelaku usaha dengan calon pembeli di pasar luar negeri. Pelaku UMKM dapat mempresentasikan produknya secara daring kepada perwakilan perdagangan Indonesia.
“Kita itu ada 46 perwakilan Atase Perdagangan dan ITPC, Indonesia Trade Promotion Center, ya. Di 33 negara, jumlahnya 46 di 33 negara,” kata Budi.
Kemendag memiliki 46 perwakilan perdagangan yang terdiri atas Atase Perdagangan dan Indonesia Trade Promotion Center atau ITPC di 33 negara. Melalui jaringan tersebut, pelaku usaha dapat mempresentasikan produk kepada perwakilan perdagangan untuk kemudian dihubungkan dengan calon buyer.
Budi menuturkan, perwakilan perdagangan juga membantu mencarikan buyer bagi pelaku UMKM. Pendampingan tersebut mencakup penerjemahan ketika buyer menggunakan bahasa dari negara tujuan.
“Jadi kalau misalnya buyer-nya dari Taiwan, dari Jepang pakai bahasa mereka, ya Bapak/Ibu enggak usah khawatir. Karena nanti akan diterjemahkan oleh teman-teman kita yang mendampingi,” ucap Budi.
Selain pencarian buyer, Budi mengingatkan pelaku UMKM untuk menjaga kualitas dan kesinambungan produk. Hal itu diperlukan karena terdapat buyer yang meminta pasokan dalam jumlah besar secara rutin.
“Produknya harus terus berkelanjutan karena ada juga UMKM bingung karena tidak dapat buyer, tapi ada yang bingung karena dapat buyer. Karena buyer-nya mintanya sebulan tiga kontainer, akhirnya Bapak/Ibu enggak bisa,” ujar Budi.
Budi menyarankan pelaku UMKM membangun kolaborasi ketika kapasitas produksi belum mampu memenuhi permintaan buyer. Kerja sama antarpelaku usaha dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pasokan dalam jumlah besar.
Di sisi transaksi, program UMKM BISA Ekspor mencatat nilai transaksi yang lebih tinggi pada 2026. Budi menyebut transaksi Januari hingga Juli 2026 mencapai USD333 juta, dibandingkan USD134,8 juta sepanjang 2025.
“Nah tahun lalu transaksinya itu mencapai USD134,8 juta. Nah sekarang, Januari-Juli itu sudah mencapai USD333 juta,” ujar Budi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....