Arah Harga Emas Pekan Depan di tengah Tekanan Konflik di Timur Tengah
- 06 Sep 2026 20:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Fluktuasi harga emas masih akan dipengaruhi oleh perkembangan konflik gepolitik dan ekspektasi suku bunga di Amerika Serikat
- harga emas dunia pada pekan depan diprakirakan akan bergerak di level USD 4.276 - ISD4.668 dolar per troi ons
- Harga logam mulia dalam sepekan ke depan kemungkinan ditransaksikan di Rp2.500.000- per gram hingga Rp2.754.000 per gram,
RRI.CO.ID, Jakarta - Harga emas pekan depan berpeluang naik, meski pada penutupan perdagangan akhir pekan kemarin harganya menurun. Fluktuasi harga emas masih akan dipengaruhi oleh perkembangan konflik gepolitik dan ekspektasi suku bunga di Amerika Serikat.
“Harga logam mulia dalam sepekan ke depan kemungkinan ditransaksikan di Rp2.500.000- per gram hingga Rp2.754.000 per gram,” kata Analis Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi dikutip Minggu, 6 September 2026. Sebelumnya, pada hari Sabtu, harga logam mulis di level Rp2.634 per gram
Sementara itu, harga emas dunia pada pekan depan diprakirakan akan bergerak di level USD 4.276 - ISD4.668 dolar per troi ons. Untuk harga minyak WTI pekan depan diprakirakan bergerak di rentang USD82,50-USD98,70 per barel.
Indeks dolar AS, pekan depan menurut Ibrahim, akan bergerak di rentang 98,30-100,20. “Artinya indeks dolar AS akan kembali menuju level 100,” ucap Ibrahim.
Menurutnya, faktor utama yang akan mempengaruhi harga emas dunia, indeks dolar AS dan harga minyak adalah pertikaian AS dan Iran. Serangan AS yang dibalas oleh Iran membuat situasi Timur Tengah masih memanas.
“Kondisi itu mendorong kenaikan harga minyak, yang berdampak pada kenaikan harga bensin di Amerika Serikta. Harga gasoline yang semula hanya 3 dolar AS, sekarang rata-rata di 5,85 dolar per gallon,” ujar Ibrahim.
Ketegangan yang memuncak juga mengguncang Eropa Timur dimana terjadi perang antara Rusia dan Ukraina. Sehingga para ekonomi memprediksi masih sulit mengharapkan perdamaian di tahun 2027.
Kenaikan harga minyak mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed, apalagi data pekerjaan di AS meningkat tajam. Tenaga kerja non-pertanian (Non-Farm Payrolls atau NFP) mencapai 162 ribu, melampaui ekspektasi sebesar 53.000-56.000 pekerjaan.
Sementara itu, tingkat pengangguran di AS masih tetap stabil 4,1 persen. “Berdasarkan jajak pendapat, hampir 58 persen para ekonom di AS memprediksi the Fed akan menaikkan suku bunga,” ucap Ibrahim.
“Kemungkinan kenaikkan suku bunga dilakukan pada pertemuan the Fed pada 16 September 2026. Kenaikan suku bunga bank sentral AS itu diprakirakan sebesar 25 basis poin,” ucap Ibrahim.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....