Pertumbuhan Ekspor F&B Indonesia Masih di Bawah Permintaan Global

  • 11 Agt 2026 13:13 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Ekspor F&B Indonesia tumbuh 5,44 persen rata-rata per tahun pada 2021–2025.
  • Permintaan global tumbuh 7,7 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekspor Indonesia.
  • Ekspor F&B 2025 mencapai 6,25 miliar dolar AS, tetapi kontribusinya baru sekitar 2,2 persen dari total ekspor Indonesia.

RRI.CO.ID, Jakarta - Pertumbuhan ekspor makanan dan minuman olahan Indonesia masih tertinggal dibandingkan pertumbuhan permintaan pasar global. Hal ini disampaikan Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Fajarini Puntodewi.

Ia mengatakan, ekspor makanan dan minuman Indonesia rata-rata tumbuh 5,44 persen per tahun dalam periode 2021 hingga 2025. Sementara itu, pertumbuhan permintaan makanan dan minuman di pasar global mencapai sekitar 7,7 persen dalam lima tahun terakhir.

Kondisi tersebut menunjukkan masih terdapat peluang besar bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor produk makanan dan minuman. Pada 2025, nilai ekspor makanan dan minuman olahan Indonesia mencapai 6,25 miliar dolar AS.

Nilai itu baru berkontribusi sekitar 2,2 persen terhadap total ekspor Indonesia yang mencapai sekitar 280 miliar dolar AS. Fajarini menyebut, Indonesia perlu meningkatkan kapasitas industri untuk memenuhi permintaan pasar global yang terus tumbuh.

“Menurut data global, permintaan pasar dunia dalam lima tahun terakhir pertumbuhannya itu diatas 7,7 persen. Artinya, permintaan pasar dunia ini lebih besar nih sebenarnya,” ucapnya, dalam Indonesia Food and Beverage (F&B) Trade Promotion Forum, di Jakarta, Selasa, 11 Agustus 2026.

Sementara itu, Wamen Perdagangan, Dyah Roro Esti, mengatakan ekspor makanan olahan Indonesia masih menempati peringkat keempat di ASEAN. Pada 2025, nilai ekspor makanan olahan Indonesia tercatat sebesar 6,25 miliar dolar AS.

Capaian tersebut masih berada di bawah Thailand dengan nilai ekspor 17,69 miliar dolar AS. Sementara Vietnam mencatat 8,89 miliar dolar AS dan Singapura sebesar 6,5 miliar dolar AS.

Wamendag Roro menilai posisi tersebut menunjukkan masih besarnya peluang Indonesia untuk meningkatkan ekspor makanan olahan ke pasar internasional. Pemerintah juga mendorong penguatan kualitas produk agar mampu memenuhi standar yang berlaku di masing-masing negara tujuan ekspor.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....