Kemenperin Pacu Produk Lokal Bernilai Tambah Tembus Pasar Global

  • 10 Agt 2026 19:55 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kementerian Perindustrian memperkuat pengembangan produk lokal bernilai tambah melalui inovasi, kualitas, desain, pengemasan, branding, dan pemasaran untuk daya saing global.
  • Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menekankan Indonesia memiliki kekayaan bahan baku dan keragaman produk yang merupakan kekuatan industri nasional.
  • Potensi bahan baku Indonesia perlu diolah menjadi produk berkualitas tinggi dengan identitas kuat agar mampu bersaing di pasar internasional.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Perindustrian mendorong pengembangan produk lokal bernilai tambah agar mampu bersaing di pasar global. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan inovasi, kualitas, desain, pengemasan, branding, serta pemasaran produk.

Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mengatakan Indonesia memiliki kekayaan bahan baku dan keragaman produk sebagai kekuatan industri nasional. Menurutnya, potensi tersebut perlu diolah menjadi produk bernilai tambah, berkualitas, memiliki identitas kuat, mampu bersaing di pasar global.

“Kita memiliki kekayaan bahan baku dan keragaman produk yang menjadi kekuatan industri Indonesia. Tantangannya adalah dari potensi tersebut kita olah menjadi produk bernilai tambah, berkualitas, memiliki identitas kuat, mampu bersaing di pasar global,” kata Faisol saat membuka Specialty Indonesia 2026 di Jakarta, Senin, 10 Agustus 2026.

Faisol menilai industri specialty dapat meningkatkan nilai ekonomi sumber daya alam melalui pengolahan di dalam negeri. Strategi tersebut mencakup inovasi, peningkatan kualitas, desain, pengemasan, branding, serta pemasaran produk.

“Karena itu, kita tidak ingin kekayaan komoditas Indonesia hanya dipasarkan sebagai bahan baku. Kita ingin semakin banyak produk diolah di dalam negeri, memiliki merek kuat, memperoleh nilai tambah lebih tinggi, dikenal konsumen dunia,” ujarnya.

Kemenperin mencatat sejumlah komoditas yang berpotensi dikembangkan menjadi produk specialty. Komoditas tersebut mencakup kakao, teh, kopi, hortikultura, susu, hasil tembakau, dan produk fermentasi.

Indonesia menjadi produsen olahan kakao terbesar keempat sekaligus produsen biji kakao terbesar ketujuh dunia. Posisi tersebut menjadi modal untuk memperkuat hilirisasi kakao dan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

Pada sektor teh, nilai pasar ekstrak teh global meningkat dari USD3,6 juta pada 2019 menjadi USD5,6 juta pada 2025. Pasar suplemen teh hijau mencapai USD909,9 juta pada 2025 dan diproyeksikan menjadi USD1,33 miliar pada 2033.

Indonesia juga menjadi produsen kopi terbesar keempat dunia dengan peluang pengembangan specialty coffee bernilai tinggi. Ekspor kopi olahan Indonesia mencapai USD692 juta pada 2025 atau meningkat 4,36 persen secara tahunan.

Industri hortikultura turut memiliki peluang pengembangan produk bernilai tambah melalui pengolahan buah dan sayuran. Nilai ekspor produk hortikultura mencapai USD544,8 juta pada 2025 dengan nanas kaleng sebagai kontributor utama.

Kemenperin juga melihat peluang pengembangan produk olahan susu, khususnya keju dan gelato. Pertumbuhan industri kuliner, bakery, hotel, restoran, dan kafe turut membuka kebutuhan terhadap produk susu bernilai tambah.

Produk fermentasi turut menjadi fokus melalui Indonesian Fermentation Forum Experience dalam Specialty Indonesia 2026. Pasar pangan fermentasi global mencapai USD788,33 juta pada 2025 dan diproyeksikan menjadi USD1.243,60 juta pada 2034.

Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika mengatakan Specialty Indonesia 2026 membuka peluang pengembangan usaha. Business matching mempertemukan pelaku industri dengan calon pembeli dari perwakilan perdagangan, hotel, restoran, kafe, dan ritel.

Specialty Indonesia 2026 berlangsung pada 10-13 Agustus dengan melibatkan 48 perusahaan terkurasi dalam pameran. Sebanyak 30 perusahaan lainnya mengikuti business matching untuk membuka peluang transaksi dan kemitraan bisnis.

Putu berharap pertemuan bisnis menghasilkan kolaborasi yang memperkuat citra produk specialty Indonesia di pasar global. Kegiatan tersebut diarahkan agar promosi produk dapat berlanjut menjadi transaksi serta hubungan bisnis yang konkret.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....