UEA Berencana Bawa Delegasi Bisnis ke Indonesia, Garap Peluang IUAE-CEPA
- 09 Agt 2026 12:45 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Fokus kerja sama akan memanfaatkan IUAE-CEPA sebagai kerangka untuk menghubungkan pelaku usaha Indonesia dengan peluang bisnis dari UEA.
- Menteri Perdagangan UEA Thani bin Ahmed Al Zeyoudi berencana membawa delegasi bisnis ke Indonesia untuk mengidentifikasi peluang kerja sama bilateral.
- Rencana delegasi ini disampaikan saat pertemuan bilateral dengan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Budi Santoso di Jaipur, India pada 7 Agustus 2026.
RRI.CO.ID, Jaipur - Menteri Perdagangan Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA), Thani bin Ahmed Al Zeyoudi, berencana membawa delegasi bisnis ke Indonesia. Mereka akan bertemu pelaku usaha Indonesia untuk mengidentifikasi peluang kerja sama melalui IUAE-CEPA.
Thani menyampaikan rencana tersebut saat bertemu Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso, di Jaipur, India. Pertemuan bilateral berlangsung pada, Jumat, 7 Agustus 2026 di sela rangkaian BRICS Trade Ministers' Meeting (TMM) 2026.
“Kami berkomitmen untuk terus mendorong pemanfaatan IUAE-CEPA secara lebih optimal. Untuk itu, kami berencana membawa delegasi bisnis UEA ke Indonesia dan bertemu dengan pelaku usaha Indonesia,” ujarnya.
Kedua menteri membahas upaya mengoptimalkan pemanfaatan Indonesia-United Arab Emirates Comprehensive Economic Partnership Agreement (IUAE-CEPA). Perjanjian tersebut telah memasuki tahun ketiga setelah mulai berlaku pada 1 September 2023.
Menurut Budi, perjanjian IUAE-CEPA menjadi katalis yang mendorong peningkatan kerja sama perdagangan dan ekonomi kita ke tingkat yang lebih maju. "Saya meyakini masih terdapat ruang yang sangat besar untuk semakin meningkatkan perdagangan, investasi, dan kerja sama ekonomi,” ujarnya.
Budi menjelaskan Indonesia dan UEA telah menggelar Joint Committee Meeting (JCM) pertama. Forum tersebut menghasilkan sejumlah tindak lanjut implementasi IUAE-CEPA di bidang perdagangan barang, ekonomi Islam, dan kerja sama ekonomi.
Budi berharap JCM kedua dapat menjadi momentum untuk menyelesaikan berbagai isu implementasi yang masih tersisa. Ia meyakini peningkatan pemanfaatan perjanjian akan memperluas partisipasi dunia usaha serta memperkuat hubungan dagang dan investasi kedua negara.
“Saya berharap JCM kedua tahun ini dapat menjadi momentum untuk menyelesaikan seluruh isu implementasi yang masih tersisa dengan cepat. Saya percaya Indonesia dan UEA memiliki komitmen yang sama untuk memaksimalkan manfaat IUAE-CEPA,” katanya.
Kedua menteri juga membahas sejumlah isu implementasi IUAE-CEPA, termasuk ketentuan Tariff Rate Quota (TRQ) dan mekanisme transshipment. Keduanya juga membahas perkembangan kasus antidumping produk kopolimer asal UEA.
Budi menegaskan Indonesia berkomitmen menjaga implementasi IUAE-CEPA tetap transparan, akuntabel, dan sejalan dengan ketentuan perjanjian maupun prinsip Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). "Indonesia juga terbuka untuk terus berdialog dalam menyelesaikan berbagai isu implementasi yang dihadapi pelaku usaha kedua negara,” ucapnya.
Perdagangan Indonesia dan UEA tercatat sebesar USD3,14 miliar sepanjang Januari-Juni 2026. Nilai tersebut terdiri atas ekspor Indonesia sebesar USD1,76 miliar dan impor sebesar USD1,38 miliar.
Pada 2025, total perdagangan kedua negara mencapai USD6,42 miliar dengan surplus Indonesia sebesar USD1,63 miliar. Ekspor Indonesia tercatat USD4,02 miliar, sedangkan impor dari UEA mencapai USD2,39 miliar.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....