Kemenperin Percepat Industri Hijau, Pacu Ekonomi Sirkular Nasional

  • 07 Agt 2026 22:46 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Transformasi menuju industri hijau menjadi strategi pembangunan industri nasional berkelanjutan dengan fokus pada daya saing global.
  • Target pencapaian Net Zero Emission sektor industri ditetapkan pada tahun 2050 melalui penguatan ekonomi sirkular nasional.
  • Subsektor industri minuman menjadi fokus pengembangan karena potensi besar dalam mendorong penerapan ekonomi sirkular melalui efisiensi sumber daya dan penggunaan energi terbarukan.

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan transformasi menuju industri hijau bagian strategi pembangunan industri nasional berkelanjutan berdaya saing. Transformasi tersebut juga diarahkan mencapai target Net Zero Emission sektor industri pada 2050 melalui penguatan ekonomi sirkular nasional.

Fokus pengembangan diarahkan pada subsektor industri minuman yang memiliki potensi besar dalam mendorong penerapan ekonomi sirkular nasional. Upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan efisiensi sumber daya, penggunaan energi terbarukan, serta optimalisasi penggunaan kemasan plastik daur ulang.

"Transformasi menuju industri hijau merupakan langkah strategis meningkatkan daya saing industri nasional menghadapi tuntutan pasar global berkelanjutan semakin meningkat. Karena itu, penerapan ekonomi sirkular perlu diperkuat melalui kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan," ujar Agus dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, 7 Agustus 2026.

Agus menjelaskan transformasi industri tidak hanya diarahkan untuk mencapai target Net Zero Emission (NZE) sektor industri pada 2050. Transformasi tersebut juga diharapkan menciptakan nilai tambah melalui efisiensi produksi, inovasi teknologi, dan penguatan ekonomi sirkular.

Upaya percepatan transformasi industri hijau tersebut sejalan dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian. Kementerian Perindustrian juga telah menyusun peta jalan dekarbonisasi bagi subsektor manufaktur prioritas, termasuk industri makanan dan minuman.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika menyampaikan industri makanan dan minuman perlu bertransformasi berkelanjutan. Menurutnya, penerapan ekonomi sirkular diharapkan mengurangi dampak lingkungan sekaligus memperkuat daya saing industri memenuhi tuntutan pasar global.

"Melalui penerapan ekonomi sirkular, industri diharapkan mampu mengurangi dampak lingkungan sekaligus memperkuat daya saing. Industri juga diharapkan mampu memenuhi tuntutan pasar global yang semakin mengedepankan aspek keberlanjutan," kata Putu.

Kementerian Perindustrian juga mendorong pengelolaan kemasan pascakonsumsi sebagai salah satu implementasi transformasi menuju industri berkelanjutan. Berdasarkan kajian Sustainable Waste Indonesia, plastik PolyPropylene (PP) mendominasi konsumsi plastik nasional sebesar 36 persen.

Low-Density Polyethylene (LDPE) menempati urutan berikutnya dengan kontribusi sebesar 17 persen. Sementara itu, High-Density Polyethylene (HDPE) menyumbang 14 persen dari total konsumsi plastik nasional.

Selain itu, plastik Polyethylene Terephthalate (PET) menyumbang sekitar sembilan persen dari total konsumsi plastik nasional. Meski demikian, kemasan botol PET menunjukkan prospek yang menjanjikan dalam penerapan ekonomi sirkular.

Produksi limbah botol PET diperkirakan mencapai sekitar 435 ribu ton per tahun. Sekitar 307 ribu ton berhasil dikumpulkan kembali sehingga tingkat daur ulangnya mencapai sekitar 71 persen.

Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian Merrijantij Punguan Pintaria mengatakan limbah botol PET dapat menjadi sumber daya bernilai ekonomis. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi modal membangun ekonomi sirkular sekaligus mendukung target penurunan emisi sektor industri minuman nasional.

"Jenis kemasan botol PET menunjukkan bahwa limbah sebenarnya dapat menjadi sumber daya apabila dikelola secara tepat. Ini menjadi modal penting bagi Indonesia dalam membangun sistem ekonomi sirkular yang lebih kuat mendukung penurunan emisi industri," ucap Merrijantij.

Sebagai langkah konkret, Kementerian Perindustrian memulai program pembinaan implementasi industri hijau dan ekonomi sirkular bagi industri minuman. Program tersebut diawali melalui workshop untuk memetakan praktik industri dan mengidentifikasi tantangan implementasi ekonomi sirkular.

Melalui rangkaian program tersebut, Kementerian Perindustrian berharap implementasi industri hijau dan ekonomi sirkular mendukung pengelolaan kemasan pascakonsumsi. Program tersebut juga diharapkan memperkuat daya saing industri minuman Indonesia di pasar global yang semakin menuntut produk berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....