Wamentan Ajak Pengusaha Tani Perluas Pasar Ekspor

  • 21 Jul 2026 23:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Wamentan Sudaryono mengajak Pengusaha Tani Indonesia berorientasi pada bisnis pertanian dan pasar ekspor, bukan proyek pemerintah
  • Pemerintah membuka peluang ekspor berbagai komoditas seperti ceker ayam ke China, karet ke Rusia, dan produk pertanian lainnya
  • PTI didorong memanfaatkan program swasembada pangan dan pengembangan sembilan komoditas perkebunan strategis
  • Sudaryono menegaskan seluruh pelayanan Kementerian Pertanian dilakukan secara transparan dan bebas praktik percaloan
  • Pengurus PTI diminta lebih sering turun ke lapangan untuk memahami kebutuhan petani dan menangkap peluang usaha

RRI.CO.ID, Jakarta – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengajak Pengusaha Tani Indonesia (PTI) mengubah orientasi usaha dari mengejar proyek pemerintah menjadi membangun bisnis pertanian yang berdaya saing dan berorientasi ekspor. Menurutnya, peluang terbesar sektor pertanian saat ini berada pada pengembangan pasar global yang terus dibuka pemerintah.

Sudaryono yang akrab disapa Mas Dar mengatakan kebijakan Presiden Prabowo Subianto menempatkan sektor pertanian sebagai prioritas nasional. Karena itu, pelaku usaha diminta memanfaatkan peluang tersebut dengan meningkatkan produksi sekaligus memperluas akses ekspor.

"Kalau sekarang pemerintah sedang membuka peluang ekspor ceker ayam ke China, peluang ekspor karet ke Rusia, atau komoditas lainnya, pengusaha tani harus ikut mengambil bagian. Jangan hanya mencari akses proyek pemerintah. Bangun bisnis yang besar, bisnis yang sehat, bisnis yang berorientasi ekspor," kata Sudaryono saat melantik pengurus Pengusaha Tani Indonesia sekaligus membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I PTI di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa 21 Juli 2026.

Ia menilai ruang proyek pemerintah memiliki keterbatasan dan seluruh prosesnya diawasi secara ketat. Sebaliknya, peluang bisnis akan jauh lebih besar apabila pelaku usaha mampu membangun jaringan pemasaran dan memanfaatkan pasar internasional.

"Kita ingin pengusaha tani memakai jaringan yang kita miliki untuk membuka pasar. Peluangnya jauh lebih besar daripada hanya berebut proyek. Orientasinya harus ekspor dan menciptakan nilai tambah," ucapnya.

Menurut Sudaryono, pelaku usaha juga perlu menyesuaikan strategi bisnis dengan arah pembangunan pemerintah yang menempatkan swasembada pangan sebagai prioritas utama. Momentum tersebut dinilai harus dimanfaatkan untuk memperkuat usaha pertanian nasional.

"Kalau era sekarang adalah era swasembada pangan, ya pengusaha juga harus bergerak mengikuti arah itu. Jangan justru mencari usaha yang bertentangan dengan kebijakan pemerintah. Ini momentum besar yang harus dimanfaatkan," katanya.

Ia mengungkapkan pemerintah saat ini menjalankan program pengembangan sembilan komoditas perkebunan strategis, seperti kelapa, kakao, kopi, pala, lada, dan komoditas ekspor lainnya dengan dukungan anggaran sekitar Rp9,9 triliun. Program tersebut dinilai membuka peluang baru di sektor perdagangan, pengolahan, hingga ekspor hasil pertanian.

"Kalau pemerintah sedang membangun sentra kelapa, kakao, kopi, atau pala, maka pengusaha tani harus sudah bersiap menjadi pedagang, pengolah, hingga eksportir komoditas tersebut. Peluangnya sangat besar," ucapnya.

Sudaryono juga mencontohkan keberhasilan pemerintah membuka akses ekspor durian Indonesia langsung ke China sebagai bukti semakin terbukanya pasar internasional bagi produk pertanian nasional.

Dalam kesempatan itu, ia menegaskan seluruh pelayanan di Kementerian Pertanian dilakukan secara bersih dan transparan. Masyarakat diminta tidak mempercayai pihak yang mengatasnamakan dirinya maupun pejabat Kementerian Pertanian untuk menawarkan bantuan dengan imbalan tertentu.

"Kalau ada yang mengaku orang saya atau mengaku bisa mengurus sesuatu atas nama saya, laporkan saja. Tidak ada praktik seperti itu. Semua pelayanan dilakukan secara terbuka dan sesuai aturan," katanya.

Menutup sambutannya, Sudaryono mengajak pengurus PTI lebih sering turun ke lapangan untuk memahami kebutuhan petani sekaligus menangkap peluang usaha secara langsung.

"Jangan hanya duduk di ruangan ber-AC. Kuncinya ada di lapangan, di kebun, di sawah, di tempat-tempat yang panas. Di situlah peluang usaha pertanian sebenarnya berada," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....