DEN: Fundamental Ekonomi Indonesia Dinilai Berbeda dengan Krisis Moneter 1998

  • 10 Jun 2026 13:48 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • 1. Dewan Ekonomi Nasional (DEN) memastikan fundamental ekonomi Indonesia berbeda dengan krisis 1998
  • 2. DEN menegaskan fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dibandingkan krisis moneter 1998
  • 3. Pemerintah harus mewaspadai ketidakpastian ekonomi global akibat perang

RRI.CO.ID, Jakarta - Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menegaskan kondisi perekonomian Indonesia saat ini berbeda dengan krisis moneter 1998. Anggota DEN Mochammad Firman Hidayat mengatakan, fundamental ekonomi saat ini baik jika dibandingkan krisis 1998.

Situasi tersebut dilaporkan langsung ke Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta. DEN juga memberikan masukan kepada Kepala Negara dalam menghadapi situasi perekonomian global.

"Fundamental ekonomi kita dalam kondisi yang baik. Bahkan jauh dibandingkan dengan kondisi krisis 1998," kata Firman Hidayat , dalam keterangan pers di Istana Merdeka, Selasa, 9 Juni 2026.

Firman membeberkan indikator makro Indonesia yang dianggap baik jika dibandingkan dengan krisis 1998. Indikator tersebut seperti pertumbuhan ekonomi 5,61 persen pada kuartal pertama tahun 2026, dan menjadi salah satu tertinggi di Asia.

Indikator lain adalah posisi neraca korporasi sangat sehat karena utang perusahaan dengan dollar lebih rendah dibandingkan kondisi 1998. Begitupula dengan kondisi sistem perbankan masih stabil dan kuat.

"Kalau kita lihat posisi cash dari perusahaan juga dalam posisi yang tinggi. Jadi ketidakpastian yang terjadi mereka masih cukup bisa mitigasi," katanya.

"Dari sisi perbankan, kita juga bisa lihat capital adequacy ratio dalam posisi di atas 25. Ini menunjukkan sistem perbankan kita cukup kuat," tegas Firman.

Kendati masih bagus, Firman mengingatkan agar pemerintah waspada terhadap ketidakpastian ekonomi global imbas perang. Gejolak keamanan di Timur Tengah imbas perang Amerika Serikat dan Iran diprediksi akan berlangsung lama.

"Dampak perang ini kenaikan energi global. Kemudian pelemahan rupiah ini bisa berdampak pada kenaikan biaya produksi dan distribusi," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....