Transisi Ekonomi Hijau Dinilai Ciptakan Jutaan 'Green Jobs' di Indonesia

  • 31 Mei 2026 21:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat menyebut transisi ekonomi hijau berpotensi menciptakan jutaan green jobs di Indonesia.
  • Generasi Z dinilai menjadi kekuatan utama dalam mendorong transformasi menuju pembangunan berkelanjutan.
  • Pemerintah menargetkan 100 persen sampah terkelola pada 2029 melalui ekonomi sirkular.

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Lingkungan Hidup, Moh Jumhur Hidayat menegaskan, transformasi menuju ekonomi hijau membuka peluang besar bagi lahirnya jutaan lapangan kerja baru atau green jobs di Indonesia. Hal tersebut disampaikan Jumhur saat memberikan pembekalan pada Wisuda Universitas Nasional, di JICC Senayan, Jakarta, Minggu, 31 Mei 2026.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri LH mengajak generasi muda untuk mempersiapkan diri menjadi talenta hijau yang mampu menjawab tantangan lingkungan. Sekaligus, mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Menurut Jumhur, dunia saat ini tengah menghadapi triple planetary crisis, yaitu krisis iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan. Dampaknya tidak hanya dirasakan pada sektor lingkungan, tetapi juga memengaruhi ekonomi, kesehatan, hingga kehidupan sosial masyarakat.

"Indonesia berada di garis depan risiko perubahan lingkungan global, tapi kondisi ini bukan alasan untuk pesimis. Justru Indonesia memiliki legitimasi moral yang kuat untuk menjadi bagian penting dari solusi global," ujarnya.

Menteri LH menilai generasi muda memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan tersebut. Berdasarkan survei Sukarelawan Indonesia Pembela Alam (RIMBA), lebih dari 80 persen Generasi Z Indonesia memiliki kepedulian terhadap isu lingkungan.

"Gen Z adalah generasi solusi, dan tugas kita sekarang adalah mengubah kepedulian itu menjadi aksi nyata. Dari sekadar awareness menjadi movement, dari kepedulian menjadi inovasi, dan dari diskusi menjadi solusi," katanya.

Jumhur menjelaskan, visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto menempatkan keberlanjutan ekologis sebagai salah satu fondasi menuju Indonesia Emas 2045. Karena itu, transisi menuju ekonomi hijau harus berjalan beriringan dengan penciptaan lapangan kerja yang inklusif dan berkeadilan.

Ke depan, berbagai profesi berbasis keberlanjutan diperkirakan akan semakin dibutuhkan. Mulai dari ahli energi terbarukan, pengelola sampah modern, insinyur lingkungan, peneliti biodiversitas, perencana kota hijau, carbon analyst, circular economy specialist, hingga wirausaha hijau.

Menurut Jumhur, peluang tersebut harus diiringi dengan penciptaan pekerjaan yang layak. Serta, memberikan perlindungan dan kesejahteraan bagi tenaga kerja.

"Transisi menuju ekonomi hijau diperkirakan akan melahirkan jutaan lapangan pekerjaan baru. Namun, kita juga harus memastikan bahwa green jobs tersebut merupakan pekerjaan yang layak, memberikan perlindungan tenaga kerja, kesejahteraan, dan kesempatan yang adil bagi masyarakat," kata dia menegaskan.

Selain itu, Indonesia dinilai memiliki posisi strategis dalam agenda lingkungan global. Sebab, Indonesia didukung hutan tropis terbesar ketiga di dunia, kawasan mangrove yang luas, kekayaan biodiversitas yang tinggi, serta garis pantai terpanjang kedua di dunia.

Sebagai bagian dari transformasi ekonomi hijau, pemerintah juga menargetkan 100 persen sampah terkelola pada 2029 melalui penguatan ekonomi sirkular dan modernisasi pengelolaan sampah. Berbagai inovasi seperti Refuse Derived Fuel (RDF), Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL), teknologi pirolisis, dan pendekatan pengelolaan sampah modern lainnya terus didorong untuk mengubah sampah menjadi sumber daya bernilai ekonomi.

Melalui momentum tersebut, Menteri LH mengajak generasi muda mengambil peran sebagai agen perubahan. Terutama, dalam menghadirkan inovasi dan solusi bagi pembangunan Indonesia yang berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....