Cetak Rekor 70 Bulan, Surplus Dagang RI Tembus USD 1,27 Miliar pada Februari 2026
- 03 Apr 2026 12:14 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus USD 1,27 miliar pada Februari 2026, memperpanjang rekor 70 bulan berturut-turut.
- Surplus ditopang sektor nonmigas sebesar USD 2,19 miliar, dengan kontribusi kuat dari industri pengolahan.
- Kinerja ekspor meningkat didorong kenaikan harga komoditas seperti timah dan nikel serta perluasan pasar nontradisional.
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menegaskan bahwa neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan surplus sebesar 1,27 miliar dolar Amerika Serikat. Capaian positif pada Februari 2026 tersebut sekaligus memperpanjang rekor tren surplus selama 70 bulan berturut-turut.
Menurutnya, performa gemilang ini membuktikan ketangguhan ekonomi nasional di tengah fluktuasi pasar global saat ini. Ia menyebut sektor nonmigas menjadi tumpuan utama dengan sumbangan surplus sebesar 2,19 miliar dolar Amerika Serikat.
“Capaian surplus selama 70 bulan berturut-turut mencerminkan fundamental perdagangan Indonesia yang tetap kuat. Kinerja ini terutama ditopang oleh ekspor nonmigas yang terus menjadi motor penggerak utama surplus neraca perdagangan kita,” ujar Budi di Jakarta, Kamis, 2 April 2026.
Mendag menjelaskan total ekspor Indonesia pada periode Februari telah mencapai angka 22,17 miliar dolar Amerika Serikat. Ia mencatat pertumbuhan tipis sebesar 0,05 persen dibandingkan bulan sebelumnya berkat sokongan kuat industri pengolahan.
Lebih lanjut, ia merinci bahwa komoditas timah dan nikel mengalami lonjakan nilai ekspor yang sangat signifikan. Ia menyebut kenaikan harga jual pada pasar internasional menjadi pemicu utama meroketnya nilai pengapalan kedua barang tersebut.
“Peningkatan ekspor sejumlah komoditas utama tidak terlepas dari faktor harga di pasar global. Harga timah tercatat melonjak 59,87 persen dan nikel naik 13,88 persen selama Januari-Februari 2026,” kata Budi.
Pria yang akrab disapa Busan ini mengungkapkan bahwa struktur ekspor nasional masih didominasi sektor industri pengolahan. Ia melihat adanya pergeseran minat pasar menuju negara nontradisional seperti Uni Emirat Arab (UEA) dan Mesir.
Ditambahkannya, ekspor ke kawasan Asia Tengah bahkan melonjak sangat tinggi hingga menyentuh angka 146,11 persen. Ia menilai perluasan pasar ke wilayah Uzbekistan dan sekitarnya menjadi strategi jitu dalam memperkuat basis perdagangan.
Lanjutnya, kinerja impor nasional tercatat mencapai nilai 20,89 miliar dolar Amerika Serikat pada periode Februari ini. Ia menjelaskan bahwa kenaikan impor barang modal sebesar 34,44 persen merupakan sinyal positif bagi geliat manufaktur.
Mendag menghubungkan data tersebut dengan kenaikan Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers' Index/PMI) Manufaktur S&P Global Indonesia. Ia merasa optimis karena level 53,8 menunjukkan ekspansi sektor industri yang paling kuat sejak Maret 2024.
“Hal ini selaras dengan Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur S&P Global Indonesia yang meningkat ke level 53,8 pada Februari 2026, tertinggi sejak Maret 2024. Hal tersebut memberikan sinyal positif bagi kinerja perdagangan Indonesia di kemudian hari,” ujar Budi.
Menurutnya, Amerika Serikat (AS) masih menjadi mitra penyumbang surplus terbesar bagi kedaulatan ekonomi Indonesia saat ini. Ia mencatat keunggulan transaksi dagang dengan negara paman sam tersebut mencapai total 3,11 miliar dolar Amerika Serikat.
Namun, ia menyayangkan adanya defisit terdalam yang terjadi pada hubungan dagang dengan pihak Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Ia melaporkan angka defisit dengan Tiongkok menyentuh 4,99 miliar dolar Amerika Serikat selama dua bulan pertama.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....