Pastikan Pasokan Aman, Pemerintah Alihkan Impor LPG dari Timur Tengah
- 15 Mar 2026 08:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta – Pasokan liquefied petroleum gas (LPG/elpiji) nasional dipastikan tetap aman karena pemerintah mengalihkan sumber impor komoditas energi tersebut. Hal ini dilakukan menyusul dinamika geopolitik global yang mempengaruhi rantai pasok energi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan sebagian impor LPG Indonesia berasal dari Timur Tengah. Namun, lanjut dia, pemerintah kini mulai mengalihkan sumber pasokan ke wilayah lain.
“Impor LPG kita dari Timur Tengah mencapai 20 persen dari total 7,6 juta ton impor,” ujarnya, Jumat 13 Maret 2026. Sedangkan sekitar 70 sampai 75 persen impor LPG Indonsia berasal dari Amerika Serikat (AS).
Menurut Bahlil, pemerintah telah menyiapkan langkah antisipatif dengan menjalin kontrak jangka panjang bersama sejumlah negara pemasok. Kebijakan ini bertujuan menjaga stabilitas pasokan energi nasional di tengah ketidakpastian global.
“Dengan kondisi sekarang, kita ambil kontrak jangka panjang dengan AS dan beberapa negara lain,” ujarnya. Bahkan pada akhir minggu ini direncanakan dua kargo LPG dari Australia akan masuk ke Indonesia.
Menurut Bahlil, pemerintah telah menjadwalkan kedatangan sejumlah kargo LPG tambahan dalam waktu dekat. Menurut dia, hal itu untuk memastikan ketersediaan energi tetap terjaga menjelang dan setelah Idulfitri 1447 Hijriah.
“Pemerintah selalu siaga untuk memastikan masuk lagi dua kargo pada 28 Maret 2026,” ujarnnya. Disusul kemudian satu kargo pada 4 April 2026 dan satu lagi masuk pada 8 April 2026.
Bahlil juga menyatakan pasokan solar nasional berada dalam kondisi aman. Ini karena kebutuhan komoditas solar sudah dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri.
Menurut dia, operasional proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan membantu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor solar. “Solar kita sudah aman dari dalam negeri, RDMP Balikpapan membantu kita mengurangi impor solar,” katanya.
Sedangkan minyak mentah, sekitar 20 persen impor Indonesia sebelumnya berasal dari kawasan Timur Tengah. Namun, pemerintah telah menyiapkan alternatif pasokan dari sejumlah negara lain terutama AS.
Bahlil mengakui pengiriman dari AS relatif lebih lama waktunya dibandingkan dari Timur Tengah. “Namun, pemerintah telah membuat kontrak jangka panjang,” ujarnya.