Industri Pengolahan Nasional Tumbuh 5,30 Persen Sepanjang Tahun 2025

  • 04 Mar 2026 14:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Sektor industri pengolahan nasional menunjukkan performa yang sangat positif sepanjang periode tahun 2025. Pertumbuhan sektor manufaktur ini tercatat mencapai angka 5,30 persen menurut data Badan Pusat Statistik.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan industri agro menjadi penopang utama struktur industri nonmigas. Sektor tersebut memberikan kontribusi sebesar 52,09 persen terhadap total PDB industri pengolahan nasional.

“Per Desember 2025 industri agro mencatatkan kontribusi sebesar 52,09 persen terhadap PDB industri pengolahan non migas. Capaian ini menunjukkan peran penting sektor industri agro dalam memperkuat struktur industri nasional,” ujar Agus di Jakarta, Selasa, 3 Maret 2026.

Pemerintah berkomitmen meningkatkan daya saing global melalui penguatan kapasitas pengolahan kakao di dalam negeri. Ketersediaan bahan baku biji kakao domestik mulai menunjukkan tren kenaikan yang sangat positif sejak setahun lalu.

Agus menjelaskan peningkatan bahan baku tersebut akan memacu kapasitas penggilingan kakao di tanah air. Indonesia kini memantapkan posisi sebagai pusat industri kakao utama di kawasan Asia dan pasar internasional.

“Sejak tahun 2025, ketersediaan bahan baku biji kakao dalam negeri menunjukkan tren peningkatan. Kondisi ini memacu kami memperkuat kapasitas grinding dalam negeri,” kata Agus.

Plt Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika menyoroti disrupsi pasokan kakao global dari Afrika Barat. Krisis pasokan tersebut mengakibatkan penurunan aktivitas penggilingan kakao di berbagai negara pengolah di dunia.

Putu mengatakan pasokan biji kakao domestik mampu menopang industri pengolahan nasional sebesar 4,43 persen. Volume penggilingan kakao Indonesia pada tahun 2025 telah mencapai angka sebesar 422.176 ton.

“Prestasi ini menempatkan Indonesia sebagai produsen kakao olahan keempat terbesar di dunia. Saat ini, Indonesia telah menyuplai 8,46 persen kebutuhan kakao olahan global, meliputi cocoa butter, cocoa liquor, cocoa cake, dan cocoa powder,” ujar Putu.

Industri kakao olahan nasional sukses menyumbang devisa negara senilai USD 3,42 miliar bagi perekonomian. Indonesia saat ini menyuplai sekitar 8,46 persen dari total kebutuhan produk kakao olahan global.

Putu menjelaskan pemerintah secara konsisten menerapkan langkah strategis melalui integrasi komoditas kakao ke dalam BPDP. Program tersebut akan difokuskan pada revitalisasi kebun serta penguatan riset serta inovasi dari hulu.

Kementerian Perindustrian juga mengalokasikan anggaran restrukturisasi mesin bagi para pelaku industri cokelat di tanah air. Langkah ini diambil untuk menangkap peluang ekspor setelah Amerika Serikat memberikan tarif nol persen.

Putu mengatakan Indonesia akan menjadi tuan rumah konferensi kakao internasional pada bulan Juli tahun 2026. Acara yang bertajuk IICC tersebut akan diselenggarakan di Yogyakarta untuk memperkuat kolaborasi mitra internasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....