IHSG Ditutup Menguat pada Level 6.036,89, Mayoritas Saham Berakhir Melemah

  • 02 Okt 2026 16:09 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • IHSG ditutup pada posisi 6.036,89 pada perdagangan Jumat, 2 Oktober 2026, mengalami penurunan 27,39 poin atau 0,46 persen dibandingkan hari sebelumnya.
  • Indeks bergerak fluktuatif sepanjang sesi perdagangan dengan posisi tertinggi mencapai 6.053,24 dan dibuka pada level 6.018,08.
  • Data resmi perdagangan berasal dari Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menunjukkan volatilitas pasar saham Indonesia pada hari perdagangan tersebut.

RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada perdagangan Jumat, 2 Oktober 2026. IHSG ditutup pada posisi 6.036,89 atau turun 27,39 poin (0,46 persen) dibandingkan sehari sebelumnya.

Menurut data perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG bergerak fluktuatif sepanjang sesi perdagangan. Indeks sempat menyentuh posisi tertinggi pada 6.053,24 setelah dibuka pada level 6.018,08.

Mayoritas saham mengalami kemerosotan. Tercatat sebanyak 337 saham melemah, sementara 319 saham manguat dan 134 saham stagnan.

Sedangkan aktivitas perdagangan tercatat dengan nilai transaksi mencapai Rp11,79 triliun. Volume saham yang diperdagangkan sebanyak 121,14 miliar lembar dengan frekuensi lebih dari 1,62 juta kali transaksi.

Mayoritas indeks sektoral juga menguat seperti bahan baku, transportasi, energi, infrastruktur, properti, industri, konsumer non siklikal dan konsumer siklikal. Sementara itu, sektor yang melemah keuangan, teknologi, dan kesehatan

Dari eksternal, aktivitas manufaktur Amerika Serikat masih berada dalam fase ekspansi selama sembilan bulan berturut-turut. Manufacturing PMI September berada di 54,5, sedikit turun dari 54,6.

Di sisi lain, tekanan harga bahan baku Amerika Serikat kembali meningkat pada September. Indeks Prices naik menjadi 77,9 dari 71,1 pada bulan sebelumnya.

Permintaan manufaktur justru menguat, tercermin dari indeks pesanan baru yang naik menjadi 55,3. "Kondisi tersebut menunjukkan aktivitas permintaan masih bertahan meski tekanan biaya produksi meningkat," kata tim Pilarmas dalam risetnya, Jumat, 2 Oktober 2026.

Sentimen global juga datang dari ketegangan Amerika Serikat dan Iran yang kembali meningkat. Pentagon dilaporkan menyiapkan tambahan kapal induk serta sekitar 10.000 personel ke kawasan Timur Tengah.

Perkembangan tersebut turut mendorong harga minyak mentah karena pasar kembali mencermati risiko gangguan pasokan energi. Harga Brent ditutup naik 4,37 persen menjadi 102,31 dolar AS per barel.

Dari dalam negeri, inflasi Indonesia pada September mencapai 3,28 persen secara tahunan. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi bulanan sebesar 0,30 persen dan inflasi inti 2,84 persen.

Bank Indonesia menyebut inflasi September masih berada dalam sasaran 2,5 persen plus minus satu persen. BI juga memperkirakan inflasi tetap terkendali dalam sasaran pada 2026 dan 2027.

Sementara itu, surplus neraca perdagangan Indonesia menjadi sentimen domestik yang perlu dicermati pelaku pasar. Analis Pilarmas menyebut surplus perdagangan yang membaik dapat menopang sektor eksternal dan stabilitas rupiah.

Namun, secara kumulatif kinerja perdagangan masih perlu diperhatikan karena surplus Januari hingga Agustus lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan impor juga menunjukkan aktivitas ekonomi domestik dan kebutuhan bahan baku masih berjalan kuat.

Di tengah sentimen tersebut, pergerakan IHSG diperkirakan masih menghadapi potensi pelemahan terbatas. “Kami melihat IHSG berpotensi melemah terbatas dengan support dan resistance 5.935–6.120,” kata tim Pilarmas dalam risetnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....