IHSG Dibuka di Zona Hijau, Menguat 0,14 Persen ke Level 6.018,08

  • 02 Okt 2026 11:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • IHSG dibuka menguat 8,58 poin atau 0,14 persen ke 6.018,08 pada perdagangan jelang akhir pekan.
  • Sentimen eksternal berasal dari manufaktur AS yang ekspansif, kenaikan harga minyak, dan ketegangan AS-Iran.
  • IHSG masih berpotensi melemah terbatas dengan support 5.935 dan resistance 6.120.

RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat 8,58 poin atau 0,14 persen ke 6.018,08, Jumat, 2 Oktober 2026. Penguatan awal terjadi setelah IHSG melemah 1,02 persen ke level 6.009,50 pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Mayoritas indeks sektoral juga menguat seperti bahan baku, transportasi, energi, infrastruktur, properti, industri, konsumer non siklikal dan konsumer siklikal. Sementara itu, sektor yang melemah keuangan, teknologi, dan kesehatan

Dari eksternal, aktivitas manufaktur Amerika Serikat masih berada dalam fase ekspansi selama sembilan bulan berturut-turut. Manufacturing PMI September berada di 54,5, sedikit turun dari 54,6.

Di sisi lain, tekanan harga bahan baku Amerika Serikat kembali meningkat pada September. Indeks Prices naik menjadi 77,9 dari 71,1 pada bulan sebelumnya.

Permintaan manufaktur justru menguat, tercermin dari indeks pesanan baru yang naik menjadi 55,3. "Kondisi tersebut menunjukkan aktivitas permintaan masih bertahan meski tekanan biaya produksi meningkat," kata tim Pilarmas dalam risetnya, Jumat, 2 Oktober.

Sentimen global juga datang dari ketegangan Amerika Serikat dan Iran yang kembali meningkat. Pentagon dilaporkan menyiapkan tambahan kapal induk serta sekitar 10.000 personel ke kawasan Timur Tengah.

Perkembangan tersebut turut mendorong harga minyak mentah karena pasar kembali mencermati risiko gangguan pasokan energi. Harga Brent ditutup naik 4,37 persen menjadi 102,31 dolar AS per barel.

Dari dalam negeri, inflasi Indonesia pada September mencapai 3,28 persen secara tahunan. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi bulanan sebesar 0,30 persen dan inflasi inti 2,84 persen.

Bank Indonesia menyebut inflasi September masih berada dalam sasaran 2,5 persen plus minus satu persen. BI juga memperkirakan inflasi tetap terkendali dalam sasaran pada 2026 dan 2027.

Sementara itu, surplus neraca perdagangan Indonesia menjadi sentimen domestik yang perlu dicermati pelaku pasar. Analis Pilarmas menyebut surplus perdagangan yang membaik dapat menopang sektor eksternal dan stabilitas rupiah.

Namun, secara kumulatif kinerja perdagangan masih perlu diperhatikan karena surplus Januari hingga Agustus lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan impor juga menunjukkan aktivitas ekonomi domestik dan kebutuhan bahan baku masih berjalan kuat.

Di tengah sentimen tersebut, pergerakan IHSG diperkirakan masih menghadapi potensi pelemahan terbatas. “Kami melihat IHSG berpotensi melemah terbatas dengan support dan resistance 5.935–6.120,” kata tim Pilarmas dalam risetnya.

Pelaku pasar selanjutnya mencermati pergerakan rupiah, harga minyak, dan perkembangan konflik Amerika Serikat-Iran. Data ketenagakerjaan Amerika Serikat juga menjadi perhatian pasar global pada perdagangan akhir pekan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....