Kenali Faktor-Faktor yang Bisa Menyebabkan Harga Emas Turun

  • 21 Sep 2026 22:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Harga emas diproyeksikan mengalami penurunan karena beberapa faktor ekonomi global yang membuat investor mengurangi permintaan terhadap logam mulia.
  • Federal Reserve Amerika Serikat menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75 hingga 4 persen pada 16 September 2026.
  • Pergerakan harga emas dipengaruhi oleh nilai dolar Amerika Serikat, suku bunga, imbal hasil obligasi, kondisi ekonomi, risiko global, dan arus investasi.

RRI.CO.ID, Jakarta - Harga emas dikatakan bisa mengalami penurunan saat beberapa faktor ekonomi global membuat investor mengurangi permintaan terhadap logam mulia. Pergerakan harganya dipengaruhi dolar Amerika Serikat, suku bunga, imbal hasil obligasi, keadaan ekonomi, risiko global, serta arus investasi.

Salah satu faktor utamanya adalah kenaikan suku bunga acuan, terutama saat kenaikan tersebut dilakukan Federal Reserve Amerika Serikat. Pada 16 September 2026, The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin menjadi 3,75 sampai 4 persen.

Melansir World Gold Council, kenaikan suku bunga membuat aset berbunga, terutama obligasi menjadi lebih menarik ketimbang emas. Emas tidak memberikan pendapatan bunga, sehingga kenaikan imbal hasil aset berbunga bisa meningkatkan biaya peluang untuk memegang emas.

Ekspektasi terhadap kebijakan moneter juga bisa mempengaruhi harga emas sebelum keputusan resmi dari bank sentral diumumkan. Jika pasar memprediksi suku bunga akan tetap tinggi atau naik, tekanan emas bisa meningkat sebab investor menyesuaikan portofolionya.

Faktor selanjutnya adalah penguatan dolar Amerika Serikat sebab emas diperdagangkan secara global dalam dolar. Penguatan mata uang tersebut bisa membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat juga berperan dalam pergerakan harga emas. Saat Treasury yield meningkat, aset berbasis bunga menjadi lebih menarik sehingga sebagian investor bisa mengurangi eksposur terhadap emas.

Inflasi juga tidak selalu otomatis membuat harga emas mengalami kenaikan. World Gold Council menjelaskan bahwa pengaruh inflasi terhadap emas harus dilihat bersama suku bunga riil, pergerakan dolar, serta ekspektasi pertumbuhan ekonomi.

Harga minyak bisa menjadi faktor tidak langsung melalui pengaruhnya terhadap inflasi juga kebijakan bank sentral. Saat kenaikan harga energi meningkatkan kekhawatiran inflasi, pasar bisa memprediksi suku bunga lebih tinggi sehingga emas tertekan.

Perubahan sentimen risiko juga mempengaruhi permintaan emas sebagai aset lindung nilai. Ketidakpastian dan risiko dinilai sebagai kelompok utama yang mempengaruhi permintaan emas, sehingga berkurangnya kekhawatiran pasar bisa mengurangi kebutuhan terhadap aset tersebut.

Selain itu, arus investasi jangka pendek bisa memperkuat kenaikan ataupun penurunan harga emas. Momentum, posisi investor, aksi mengikuti tren, serta pengambilan keuntungan dinilai bisa mempengaruhi pergerakan harga dalam jangka pendek.

Aksi ambil untung juga bisa menimbulkan penurunan setelah emas mengalami kenaikan cukup besar dalam periode sebelumnya. Saat investor menjual sebagian kepemilikannya untuk merealisasikan keuntungan, peningkatan pasokan di pasar mampu memberikan tekanan terhadap harga.

Jadi, penurunan harga emas biasanya tidak disebabkan hanya satu faktor, tetapi kombinasi kondisi pasar serta perubahan ekspektasi investor. Pergerakan dolar, suku bunga, imbal hasil obligasi, risiko global, inflasi, dan arus investasi perlu diperhatikan secara bersamaan. (Shafira Nursyifa)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....