IHSG Melemah 22,69 Poin, Ditutup di Level 6.439,75 pada Sesi I Perdagangan
- 18 Sep 2026 12:07 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- IHSG melemah 22,69 poin (0,35 persen) pada penutupan sesi pertama perdagangan Jumat, 18 September 2026, dengan posisi akhir di level 6.439,75.
- Indeks dibuka pada level 6.512,57 dan bergerak dalam rentang 6.433,37 hingga 6.521,02 selama sesi pertama perdagangan.
- Penurunan IHSG mencerminkan tekanan penjualan di pasar saham Indonesia pada sesi pagi perdagangan hari Jumat.
RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 22,69 poin (0,35 persen) pada penutupan sesi I perdagangan Jumat, 18 September 2026. Indeks tercatat berada di level 6.439,75.
Menurut data RTI Business, IHSG dibuka pada level 6.512,57. Indeks kemudian sempat menyentuh level tertinggi 6.521,02 dan level terendah 6.433,37 selama sesi pertama.
Sebelumnya, IHSG ditutup menguat 0,4 persen pada level 6.462,43 dalam perdagangan Kamis, 17 September 2026. Tim Analis Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan hari ini.
“Secara teknikal, IHSG masih bertahan di atas level 6.400 dan indikator Stochastic RSI membentuk Golden Cross di area oversold. Sehingga IHSG diperkirakan bergerak cenderung menguat menguji level 6.500 hingga 6.550 pada perdagangan Jumat,” kata Tim Analis Phintraco Sekuritas, Jumat, 18 September 2026.
Ia menyebut koreksi harga minyak dunia juga diperkirakan menjadi salah satu faktor positif bagi pergerakan pasar. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu sentimen eksternal yang dicermati investor pada perdagangan hari ini.
Selain sentimen eksternal, pasar juga mencermati pembahasan revisi Undang-Undang Keuangan Negara oleh DPR RI. Salah satu pembahasan tersebut berkaitan dengan batas maksimal defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Jika batas defisit tersebut dinaikkan dari level tiga persen PDB, dampak positif yang mungkin terjadi adalah memberi fleksibilitas. Fleksibilitas tersebut dapat digunakan pemerintah untuk membiayai program-program pemerintah,” ujarnya.
Namun, perubahan batas defisit juga memiliki sejumlah risiko terhadap kondisi fiskal dan pasar keuangan. Risiko tersebut, lanjutnya, antara lain kenaikan utang dan beban bunga pemerintah untuk membiayai tambahan defisit.
“Risiko yang perlu diperhatikan di antaranya potensi kenaikan utang dan beban bunga pemerintah untuk membiayai tambahan defisit. Kondisi tersebut juga dapat berdampak pada kurang terserapnya SBN yang diterbitkan pemerintah dan obligasi korporasi yang diterbitkan swasta,” kata Tim Analis.
Selain itu, investor global dan lembaga pemeringkat internasional turut mencermati kondisi disiplin fiskal Indonesia. Menurutnya, perubahan kebijakan defisit berpotensi memengaruhi peringkat kredit, aliran modal asing, serta nilai tukar rupiah.
“Investor global dan lembaga pemeringkat internasional dapat menganggap disiplin fiskal Indonesia melemah, sehingga berpotensi memicu penurunan peringkat kredit. Kondisi tersebut juga berpotensi memicu capital outflow dan pelemahan rupiah,” ujarnya.
Indonesia sebelumnya pernah menaikkan batas defisit APBN di atas tiga persen terhadap PDB. Kebijakan tersebut diterapkan pada 2020 hingga 2022 dalam kondisi luar biasa akibat pandemi Covid-19.
Sementara itu, rata-rata defisit fiskal negara-negara ASEAN berada pada kisaran tiga hingga 4,2 persen terhadap PDB pada 2026. Perkembangan kebijakan fiskal tersebut menjadi salah satu sentimen yang dicermati investor terhadap pergerakan IHSG.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....