Tekanan Dolar AS jelang Pertemuan FOMC, Rupiah Dibuka Melemah?

  • 16 Sep 2026 10:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Dalam pembukaan perdagangan hari ini, rupiah turun 0,06 persen atau 11 poin menjadi Rp17.705 per dolar AS
  • Investor mengantisipasi sikap hawkish (ketat) the Fed pada pada pertemuan malam ini
  • Harga minyak dunia hari ini terpantau semakin tinggi. Konflik Timur Tengah yang terus bergejolak menjadi pemicunya

RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah masih tertekan oleh dolar AS. Dalam pembukaan perdagangan hari ini, rupiah turun 0,06 persen atau 11 poin menjadi Rp17.705 per dolar AS.

Pada penutupan perdagangan Selasa kemarin, rupiah melemah ke posisi Rp17.694 per dolar AS. Sentimen negatif pelaku pasar akan menjadi pendorong pelemahan rupiah hari ini.

"Rupiah diprakirakan melemah terhadap dolar AS. Pelemahan dipicu oleh naiknya imbal hasil obligasi AS dan harga minyak dunia," kata Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, Rabu, 16 September 2026.

Harga minyak mentah yang terus merangkak naiik membuat pelaku pasar bersikap hati-hati. "Investor mengantisipasi sikap hawkish (ketat) the Fed pada pada pertemuan malam ini," ujar Lukman Leong

Malam nanti, para pejabat the Fed akan menggelar pertemuan rutin Federal Open Market Committee (FOMC). Setelah pertemuan, the Fed akan menyampaikan asesmen nya terhadap kondisi perekonomian serta kebijakan suku bunganya.

Sementara itu, harga minyak dunia hari ini terpantau semakin tinggi. Konflik Timur Tengah yang terus bergejolak menjadi pemicunya.

Harga minyak mentah Brent: bergerak di sekitar USD107,82 per barel. Sedangkan harnya minyak WTI (West Texas Intermediate) di kisaran USD104,84 –USD105,83 per barel.

Lukman memprakirakan nilai tukar rupiah hari ini akan bergerak di kisaran Rp17600-17.700 per dolar AS. Sedangkan indeks dolar AS berada di rentang 99,72 -99,73 menguat hampir 0,12 persen dibandingkan hari sebelumya.

Dalam analisis berbeda, Tim Mirae Asset Sekuritas mencatat kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat atau US Treasury. Tenor 10 tahun imbal hasilnya naik dari level 5 persen ke 5,03 persen, karena risiko yang dipicu kenaikan harga minyak.

"Kenaikan imbal hasil obligasi AS semakin memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed. Sehingga suku bunga global masih akan tinggi," kata Analis Mirae Asset Sekuritas, Jessica Tasijawa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....