Nilai Tukar Rupiah Merosot dalam Penutupan Perdagangan Hari Ini

  • 14 Sep 2026 20:38 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun 0,33 persen atau 58 poin ke posisi Rp17.669 per dolar AS
  • Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah hari ini tidak terlalu tepengaruh oleh penggantian Menteri Keuangan. Pelemahan rupiah lebih disebabkan oleh faktor eksternal
  • Kondisi di Timur Tengah yang membuat jalur distribusi minyak makin terbatas memicu sentimen negatif pasar

RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS dalam penutupan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun 0,33 persen atau 58 poin ke posisi Rp17.669 per dolar AS.

Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah hari ini tidak terlalu tepengaruh oleh penggantian Menteri Keuangan. Pelemahan rupiah lebih disebabkan oleh faktor eksternal.

“Namun, kalau Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) tepengaruh, bisa berdampak ke rupiah, biasanya besok,” kata Ibrahim, Senin, 14 September 2026. IHSG sendiri hari ini ditutup melemah 0,1 persen ke level 6.534,69, meski sempat menguat saat kabar reshuffle.

Seperti diketahui, hari ini, Presiden Prabowo Subianto melantik Suahasil Nazara-sebelumnya wakil menteri keuangan- menjadi Menteri Keuangan. Suahasil menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa yang baru setahun menjabat sebagai menteri.

Terlepas dari itu, perkembangan eksternal membuat nilai tukar rupiah masih tertekan. Kondisi di Timur Tengah yang membuat jalur distribusi minyak makin terbatas memicu sentimen negatif pasar.

“Kelompok Houthi semakin memperkuat posisinya terhadap Selat Bab el-Mandeb. Dengan demikian, jalur pasokan minyak penting di Timur Tengah ini tertutup, utamanya untuk pengiriman minyak Arab Saudi,” ujar Ibrahim.

Selama ini, Saudi mengambil jalur Selat el-Mandeb setelah Selat Homuz dikuasai Iran. Di sisi lain, rencana pertemuan antara Iran dan negara-negara Teluk dikabarkan ditunda.

Harapan pasar akan meredanya konflik kembali pupus, karena kabar tersebut. “Selat Hormuz kemungkinan masih akan menjadi rebutan, sementara kapal-kapal yang melintas di selat itu semakin sedikit,” ucap Ibrahim.

Dari sisi ekonomi, tambah Ibrahim, perkiraan the Fed akan menaikkan suku bunga di bulan September semakin kuat, mencapai 88 persen. Jika kenaikan suku bunga terjadi, ketegangan politik di AS kemungkinan akan kembali memanas.

“Karena Presiden Trump tetap menyerukan penurunan suku bunga. Ia juga kembali mengkritik kebijakan bank sentral AS itu,” ujar Ibrahim menutup analisisnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....