Pengusaha Manfaatkan Kredit Program Perumahan untuk Tingkatkan Kapasitas Usaha
- 13 Sep 2026 15:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pelaku usaha menyambut antusias Kredit Program Perumahan (KPP)
- Pemerintah meningkatkan plafon KPP tahun 2026 dari Rp36 triliun menjadi Rp50 triliun.
- Realisasi penyaluran KPP pada periode 1 Januari hingga 8 September 2026, mencapai 65,24 persen dari Rencana Target Penyaluran (RTP) 2026 sebesar sekitar Rp38,1 triliun
RRI.CO.ID, Jakarta - Banyak pelaku usaha di Indonesia memanfaatkan Kredit Program Perumahan (KPP) untuk meningkatkan kapasitas produksi. KPP dinilai membantu pelaku usaha untuk terus berkembang.
Salah satunya adalah Marlina, pemilik usaha cuci baju (laundry) di Tangerang Selatan, yang mengajukan kredit Bank Tabungan Negara (BTN). Ia mendapatkan pembiayaan sebesar Rp442,5 juta dari BTN.
“Saya ingin membuka cabang kedua. Berkat Kredit Program Perumahan rencana membuka cabang terwujud,” kata Marlina, seperti dalam keterangan tertulis dari Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Minggu, 13 September 2026.
Marlina mengatakan program KPP tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi tetapi juga membuka lapangan kerja baru. Ia membutuhkan karyawan untuk membantu kegiatan operasional di cabang laundry.
Rencananya ia akan mempekerjakan warga sekitar untuk menjadi pegawai. Marlina berharap keberadaan usaha laundry miliknya memberikan dampak untuk masyarakat.
“Rencana kan kalau misalnya mau buka cabang kedua kan harus ada pegawai juga lagi. Jadinya mungkin saya akan mengambil warga sekitar untuk jadi pegawai saya,” katanya.
Marlina mengatakan persyaratan mudah untuk mendapatkan kredit dari KPP. Seperti memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP),memiliki usaha yang produktif, layak dan telah beroperasi, paling singkat enam bulan.
Pengembang properti (developer) skala kecil Azhary Husni, juga merasakan manfaat atas program KPP. Azhary mengatakan perusahaannya mengajukan KPP sebesar Rp3,2 miliar untuk mengembangkan usahanya.
Azhary yang merupakan Direktur Utama PT Agung Bangun Indonesia, berhasil meningkatkan kapasitas usaha hingga dua kali lipat. Perusahaannya mampu membangun 10 unit rumah dalam sebulan.
“Sebelum KPP cair, saya cuma punya kemampuan bangun tiga hingga empat unit (rumah) sebulan. Tapi setelah KPP cair, saya bisa (membangun) 10 unit sebulan," ujar Azhary.
Azhary mengatakan meningkatnya permintaan rumah, berimbas kepada pemenuhan tenaga kerja yang lebih banyak. Ia mencontohkan rata-rata dibutuhkan empat hingga lima pekerja untuk membangun satu unit rumah.
Lebih lanjut ia mengatakan, jika ada 10 unit rumah yang dibangun dalam sebulan, berarti menyerap tenaga kerja 40-50 orang. Perusahaannya pun merekrut tenaga kerja tidak hanya warga lokal tetapi juga di luar Bogor.
"Kita kombinasi biasanya, dari lokal sama dari Jawa (non-Bogor). Kita kombinasikan pekerjaan," katanya.
Azhary mengatakan pembiayaan sangat untuk menjaga keberlansungan usaha perumahaan. Oleh karena itu, ia mengapresiasi pemerintah dan perbankan atas kolaborasi dalam penyelenggaraan program KPP.
Ia berharap program tersebut dapat terus berlanjut dan cakupannya diperluas agar manfaat serupa dapat dirasakan lebih banyak developer kecil lainnya. Program KPP menyerap banyak tenaga kerja.
"Sangat membantu karena satu sisi kita bisa progres lebih cepat, kita bisa menyerap tenaga kerja lebih banyak, dan kita bisa jualan lebih cepat. Saya berterima kasih dan saya bangga banget dengan pemerintah saat ini, termasuk bank-bank penyalur ya,” kata Azhary menegaskan.
Seperti diketahui, KPP merupakan program yang diluncurkan pemerintah pada 21 Oktober 2025. Belum genap setahun berjalan, program tersebut mendapat respons positif dari masyarakat.
Realisasi penyaluran KPP hingga, mencapai 65,24 persen dari Rencana Target Penyaluran (RTP) 2026 sebesar sekitar Rp38,1 triliun. Pemerintah meningkatkan plafon KPP tahun 2026 dari Rp36 triliun menjadi Rp50 triliun.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....